وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ
“Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri”.(QS Al-Baqarah:109)
Untuk apa dengki kepada orang yang lebih berilmu darimu; padahal engkau bisa mengambil ilmu darinya dan mengamalkannya untuk dirimu. Untuk apa dengki kepada orang yang lebih berharta darimu; padahal engkau memiliki tanggung-jawab yang lebih ringan disisi Allah dihari akhir kelak dibanding dirinya? jika telah timbul kedengkian, ingatlah akan hal ini! dan ingatlah sifat dengki itu sifat iblis!
Berbeda lagi dengan yang dinamakan dengan GHIBTHAH, maka ini tidaklah tercela, apa itu ghibthah, samakah ini dengan hasad?
Hasad adalah suatu sifat yang tercela karena pelakunya mengharapkan hilangnya nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada orang lain, yang juga disertai kebenciannya kepada orang tersebut dikarenakan memperoleh nikmat tersebut.
Adapun ghibthah adalah seseorang menginginkan untuk mendapatkan sesuatu yang diperoleh orang lain [yang kelebihan tersebut, ia gunakan untuk kebaikan], tanpa menginginkan hilangnya nikmat tersebut dari orang itu [bahkan, ia menginginkan nikmat tersebut terus berada pada orang tersebut, dan bahkan ia menginginkan tambahan nikmat kepada orang terebut]. Yang seperti ini tidak mengapa dan tidak dicela pelakunya. Wallåhu A'lam
(Lihat At-Tafsirul Qayyim, 1/167 dan Fathul Bari, 1/167)
Bebasnya seseorang dari sifat hasad akan menjadikan seseorang tersebut AHLI JANNAH. Dalilnya? Simaklah hadits berikut:
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dia berkata: “Dahulu kami duduk-duduk di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ اْلآنَ مِنْ هَذَا الْفَجِّ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Sekarang akan muncul kepada kalian dari jalan ini, seorang lelaki dari penghuni surga.”
Anas radhiyallahu 'anhu berkata:
“Lalu muncullah seorang lelaki dari kalangan Anshar, jenggotnya meneteskan air karena wudhu. Orang tersebut mengikatkan kedua sandalnya di tangan kirinya. Orang itu pun mengucapkan salam. Keesokan harinya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan yang seperti itu. Muncul lagi lelaki itu seperti pada kali yang pertama. Hari ketiga, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan hal yang sama, dan muncul lagi lelaki itu seperti keadaannya yang pertama.
Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berdiri, lelaki itu diikuti oleh Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu 'anhuma. Kemudian Abdullah berkata:
“Sesungguhnya aku bertengkar dengan ayahku, lalu aku bersumpah untuk tidak masuk kepadanya (kedalam rumahnya) selama tiga (hari). Jika engkau mempersilakan aku tinggal di rumahmu hingga lewat tiga hari, maka akan aku lakukan. "
Lelaki itu berkata: “Ya.”
Anas berkata: “Adalah Abdullah –yakni bin ‘Amr– bercerita bahwa ia menginap bersamanya tiga malam.”
Anas berkata lagi: “Ia tidak melihat lelaki itu shalat malam sedikitpun. Hanya saja bila ia terbangun dari tidurnya di malam hari dan menggerakkan (tubuhnya) di atas kasurnya, ia berdzikir kepada Allah dan bertakbir, sampai ia bangun untuk shalat fajar (shalat shubuh). Hanya saja, jika ia terbangun di malam hari, ia tidak berucap kecuali kebaikan."
Abdullah berkata: ‘Tatkala tiga malam itu lewat, dan aku hampir-hampir menganggap remeh amalannya, aku berkata: ‘Wahai hamba Allah, (sebenarnya) tidak ada ketegangan dan pemboikotan antara aku dengan ayahku. Namun aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berucap (tiga kali): ‘Sekarang akan muncul kepada kalian salah seorang penduduk surga.’ Lalu engkau muncul, (dan ini terjadi -abu zuhriy) tiga kali. Aku ingin tinggal menginap di tempatmu sehingga aku tahu apa amalanmu. Namun aku tidak melihat engkau banyak beramal. Apa gerangan yang menyebabkan kedudukanmu sampai seperti yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?’
Dia menjawab: ‘Tidak ada, kecuali yang kamu lihat.’
Abdullah berkata: ‘Aku pun meninggalkannya, Tatkala aku berpaling, ia memanggilku dan ia berkata: "Aku tidak punya amalan (yang menonjol) kecuali apa yang engkau lihat. Hanya saja aku tidak dapatkan dalam diriku kedengkian terhadap seorang pun dari kaum muslimin. Dan aku tidak hasad kepadanya atas kebaikan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya."
Abdullah berkata: ‘Inilah hal yang menjadikan engkau sampai kepada kedudukan tersebut (yakni menjadi penghuni jannah). Dan inilah yang tidak dimampui (susah dilaksanakan)’.”
(HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 12/8-9, no. 6181, dan Ahmad dalam Al-Musnad, dan dishahihkan oleh Al-‘Iraqi rahimahullahu dalam Al-Mughni ‘an Hamlil Asfar, 2/862, no. 3168)
Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhuma berkata: “Kami mengatakan: ‘Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapakah orang yang terbaik?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab (yang artinya): ‘Orang yang memiliki hati yang makhmum dan lisan yang jujur.’ Kami berkata: ‘Kami telah tahu lisan yang jujur. Lalu apakah hati yang makhmum?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Hati yang bertakwa lagi bersih, tiada dosa dan hasad padanya…’.”
(HR. Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab no. 6180, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 948)
Hendaknya seorang mukmin harus tunduk berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan memohon dan berharap kepada-Nya agar menghilangkan hasad tersebut dari dalam hatinya. Karena itu, kapanpun anda merasa ada hasad menjalar di hati anda, hendaklah anda paksa jiwa anda untuk menyembunyikannya dalam hati tanpa menyakiti orang yang didengki, baik dengan ucapan ataupun perbuatan.
Wallahul musta’an.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar