24 Juni 2010

CARA MUDAH MEMAHAMI USHULUS TSALATSAH


CARA MUDAH MEMAHAMI USHULUS TSALATSAH (Soal Jawab Tentang Tiga Landasan Utama) Edisi Lengkap

Penulis: Syaikh Shalih Bin Abdillah Al ‘AshiimyDisusun dengan metode Tanya jawab oleh :
As Syaikh Muhammad At Thoyyib Al Anshori.
Diteliti dan ditahrij hadits-haditsnya oleh Shalih Bin Abdillah Al ‘Ashiimy

Muqaddimah

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam untuk nabi dan rasul yang termulia, juga untuk keluarga dan para shahabatnya semua. Amma ba’du.

Ini adalah sebuah bingkisan yang diberkahi terhadap kitab “Ats Tsalatsatu Ushul wa Adilatuha“ milik Al Imam Al Mujaddid Muhammad bin Abdil Wahhab ( wafat th.1206 H ) Rahimahullah, yang telah ditulis oleh pena seorang yang alim Al Fadhil Muhammad At Thoyyib Al Anshori Al Madini ( Wafat th. 1362 H ) Rahimahullah. Beliau menyusunnya dalam bentuk tanya jawab untuk mempermudah bagi para penuntut ilmu. Dan membantu bagi yang berhasrat mengambil ilmu. Kemudian aku sangat berkeinginan untuk mencetaknya dalam sebuah kemasan yang baru agar tersebar manfaatnya dan meluas dampak baiknya maka akupun menaruh perhatian untuk membenarkan huruf-hurufnya dan menata baris-barisnya dan mentahrij ayat-ayat serta hadits-haditsnya. Juga memberikan keterangan pada tempat-tempat yang diperlukan.

Semoga Allah memberikan manfaat dengan keberadaannya, memberikan apa yang menjadi tujuan pengarangnya. Allah penolang kita dan dia adalah sebaik-baik penolong.

10-8-1412 H
Ditulis oleh : Abu ‘Amr Shalih Al ‘Ashiimy

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kepada-Nya kita mohon pertolongan.
Sholawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan para shahabatnya semua.

S : Apa empat masalah yang wajib bagi setiap manusia untuk mempelajarinya ?
J : Pertama : Ilmu yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal Agama Islam dengan dalil-dalilnya.
Kedua : Amal yaitu mengamalkan ilmu tersebut
Ketiga : Dakwah yaitu Mendakwahkan ilmu tersebut
Keempat : Sabar yaitu Bersabar atas berbagai ganguan dan rintangan dalam menuntut ilmu, beramal serta berdakwah.

S : Apa dalilnya ?
J : Firman Allah Ta’ala :

بسم الله الرحمن الرحيم (وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْأِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ .إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ( العصر:١-٣ )
1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al ‘Ashr : 1-3)

S : Apa perkatan Imam As Syafi’i رحمه الله تعالى tentang surat ini ?
J : " لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم
“Seandainya Allah tidak menurunkan satu hujjah kepada makhluknya kecuali surat ini niscaya telah cukup bagi mereka”
S : Apakah perkataan dan perbuatan itu sebelum ilmu ataukah ilmu terlebih dahulu sebelum keduanya ?
J : Ilmulah yang sebelum keduanya dengan dalil firman Allah Ta’ala :
(فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِك وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ)(محمد: ١٩)
“Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan yang haq) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan”. (QS. Muhammad : 19)

Maka Allah memulai perintah untuk berilmu sebelum berkata dan berbuat. Demikian dikatakan Imam Al Bukhari.
S : Apa tiga masalah yang wajib dipelajari sekaligus diamalkan ?
J : ( Pertama ) : Sesungguhnya Allah telah telah menciptakan kita dan memberikan rizki kepada kita dan tidak meninggalkan kita secara percuma begitu saja akan tetapi Allah mengutus Rasul kepada kita maka barang siapa yang mentaati rasul pasti masuk surga namun siapa yang mendurhakainya pasti masuk neraka.

S : Apa dalilnya ?
J : Firman Allah Ta’ala :

(إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولاً شَاهِداً عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولاً فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذاً وَبِيلاً) (المزمل: ١٥-١٦)
15. Sesungguhnya kami Telah mengutus kepada kalian seorang rasul, yang menjadi saksi terhadap kalian, sebagaimana kami Telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir'aun.
16. Maka Fir'aun mendurhakai Rasul itu, lalu kami siksa dia dengan siksaan yang berat. ( QS. Al Muzammil : 15-16 )

( Kedua ) : Sesungguhnya Allah tidak ridha untuk disekutukan dalam peribadahan kepada-Nya dengan seorang pun baik seorang malaikat yang sekalipun dekat dengan Allah ataupun seorang Nabi yang diutus-Nya.
S : Mana Dalilnya ?
J : Firman Allah Ta’ala :

(وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُو مَعَ اللَّهِ أَحَداً) (الجـن:١٨.)
“Dan Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah”. (QS. Al Jin : 18)

( Ketiga ) : Bahwa siapa saja yang telah mentaati Rasul dan mentauhidkan Allah maka tidak boleh baginya berloyalitas (berkasih-sayang) terhadap orang yang memusuhi Allah dan Rasulnya sekalipun orang tersebut adalah kerabat dekatnya.

S : Apa dalilnya ?
J :
( لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْأِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ) (المجادلة :۲۲ (
“Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau Saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun ridha terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung”. (Qs. Al Mujadilah :22)
S : Apakah pengertian Al Hanifiyyah adalah agama Ibrahim ?
J : Al-Hanifiyyah adalah Engkau beribadah kepada Allah semata seraya meikhlaskan agama bagi-Nya. Dan itulah yang Allah perintahkan kepada seluruh manusia dan untuk tujuan itu pula Allah menciptakan mereka.

S : Apa dalilnya ?
J : Firman Allah Ta’ala :
(وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ) (الذريات:٥٦)
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. ( QS. Adz-Dzariyat : 56 )
S : Apa pengertian لِيَعْبُدُون (supaya mereka beribadah kepada-Ku)
J : Maknanya : agar mereka mentauhidkan Aku serta aku perintah mereka dan juga aku larang mereka

S : Perkara apakah yang paling besar yang Allah perintahkan ?
J : Tauhid

S : Apa itu Tauhid ?
J : Mengesakan Allah dalam peribadahan dan menetapkan sifat-sifat yang Allah sifati diri-Nya dan yang Rasul mensifati-Nya serta mensucikan-Nya dari segala kekurangan dan sifat baru serta mensucikan-Nya dari keserupaan dengan makhluk-Nya.

S : Apa larangan Allah yang paling besar ?
J : Syirik

S : Apa itu syirik ?
J : Menyembah selain Allah di samping (menyembah) Allah. Dan kamu menjadikan tandingan atau sekutu bagi Allah dalam ibadah sementara Allah yang telah menciptakan kamu.

S : Apa dalilnya ?
J : Firman Allah :
(وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً )(النساء : ٣٦ )
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun”. ( QS. An Nisa’ : 36 )
( فلا تجعلوا للَّهَ أندادا ) (البقرة : ۲۲)
“Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah” (QS. Al Baqarah : 22)

S : Apakah tiga landasan pokok yang manusia wajib mengetahuinya. ?
J : Seorang hamba mengetahui / mengenal Rabbnya, Agamanya dan Nabinya yaitu Muhammad .

S : Siapa Rabb kamu ?
J : Rabb-ku adalah Allah yang telah menciptakan, memberi rezki dan mengatur aku dan mengatur seluruh alam. Dan Dia adalah sesembahanku yang tidak ada bagiku sesembahan selain Dia.
S : Apa dalilnya ?
J : Firman Allah Ta’ala :
(الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) (الفاتحة:۲)
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”. ( QS. Al Fatehah : 2 )

Dan segala sesuatu yang selain Allah adalah alam dan saya termasuk salah satu dari alam.

S : Dengan apa kamu mengenal Rabbmu ?
J : Aku mengenal-Nya dengan ayat-ayat-Nya dan makhluk-makhluk-Nya : malam, siang, matahari, bulan, langit yang tujuh dan bumi yang tujuh serta siapa yang ada padanya dan apa saja yang ada diantara keduanya.

S : Apa dalilnya ?
J : Firman Allah Ta’ala :
(وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ) (فصلت:٣۷)
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika kepada-Nya kalian memang beribadah”. (QS. Fushilat : 37 )
Dan firman Allah Ta’ala :
(إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثاً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ) (الأعراف:٥٤)
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Al A’raf : 54)
S : Apa Ar-Rabb itu?
J : Ar-Rabb adalah Tuhan, Pemilik, Pencipta dan Dzat yang mewujudkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan Dialah satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi.
S : Apa dalilnya ?
J : Firman Allah Ta’ala :

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ) (البقرة:۲١) (الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشاً وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَاداً وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ) (البقرة:۲۲)
21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,
22. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu Mengetahui. ( QS. Al Baqarah ; 21-22 )

Maka pencipta segala sesuatu ini, dialah yang berhak diibadahi.

S : Apa itu ibadah ?
J : Ibadah adalah puncak ketundukan dan perendahan diri dan puncak kecintaan dan bergantungnya seseorang yang melakukan peribadahan tersebut. Dengan ungkapan yang lain,
Ibadah adalah : sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai Allah dan yang diridhai-Nya berupa ucapan maupum perbuatan yang dhohir maupun yang batin.
S : Berapakah macam ibadah yang Allah perintahkan ?
J : Banyak sekali diantaranya : Islam, Iman, Ihsan, doa, khauf (rasa takut), Raja’ (rasa harap), Tawakkal, Raghbah, Rahbah, khusu’, Khasyah, Inabah, Isti’anah, Isti’adzah, Istighatsah dan menyembelih, Nadzar dan yang lainnya dari ibadah-ibadah yang Allah perintahkan. Kesemuanya itu khusus untuk Allah Ta’ala.

S : Apa dalilnya ?
J : Firman Allah Ta’ala :

(وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُو مَعَ اللَّهِ أَحَداً) (الجـن: ١٨)
“Dan Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah”. (QS. Al Jin : 18)

Dan firman Allah Ta’ala :
(وقضى ربك ألا تعبدوا إلا إياه ) (الإسراء : ۲٣)
“Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia”. (QS. Al Isra’ : 23)

S : Apa hukum orang yang memalingkan sesuatu dari ibadah tersebut kepada selain Allah ?
J : Siapa saja yang memalingkan dari jenis-jenis ibadah tersebut sedikit saja kepada selain Allah maka dia adalah musyrik kafir, walaupun ia sholat, puasa, dan haji dan sekalipun ia menyangka dirinya muslim.

S : Apa dalilnya ?
J : Firman Allah Ta’ala :
(وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ) (المؤمنون:١١۷)
“Dan barangsiapa menyembah Tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, Maka Sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung”. (QS. Al Mukminun : 117)
S : Apa dalil bahwa doa itu adalah ibadah ?
J : Firman Allah Ta’ala :
(وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ) (غافر:٦٠)
“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS. Ghafir : 60 )

Dan sabda Nabi :
اَلدُّعَاءُ مُخُ الْعِبَادَةِ“Doa itu adalah sari patinya ibadah”
Dalam sebuah riwayat :
اَلدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةِ ” Doa itu adalah ibadah”
S : Apa dalil bahwa khauf (takut) itu adalah ibadah ?
J : Firman Allah Ta’ala :
( فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ)(آل عمران: ١۷٥)
“Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Al Imran : 175)

S : Apa dalilnya bahwa Roja’ (berharap) itu ibadah ?
J : Firman Allah Ta’ala :

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً)(الكهف: ١١٠)
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. Al Kahfi : 110)

S : Apa dalilnya bahwa tawakkal adalah ibadah
J : Firman Allah Ta’ala :
عَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ)(المائدة : ٢٣)
“Dan Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". (QS. Al Maidah : 23)

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُه)(الطلاق:٣)
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. (QS. At Thalaq : 3)

S : Apa Dalilnya bahwa Raghbah (harapan), Rahbah (takut), dan Khusyu’ itu adalah ibadah ?
J : Firman Allah Ta’ala :
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ)(الانبياء: ٩٠)
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas (*). Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami”. (QS. Al Anbiya’ : 90)

(*) Maksudnya: mengharap agar dikabulkan Allah doanya dan khawatir akan azabnya.
S : Apa dalilnya bahwa khosyah (takut) itu adalah ibadah ?
J : Firman Allah Ta’ala :

( فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي)(البقرة: ١٥٠)
“Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja)”. (QS. Al Baqarah : 150)

S : Apa dalilnya bahwa inabah (kembali bertaubat) itu adalah ibadah ?
J : Firman Allah Ta’ala :
( وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَه)(الزمر:٥٤)
“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya”. (QS. Az Zumar : 54)

S : Apa dalilnya bahwa Isti’anah (minta pertolongan) itu adalah ibadah ?
J : Firman Allah Ta’ala :
(إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) (الفاتحة:٥)
“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”. (QS. Al Fatehah : 5 )

Dalam sebuah hadits :
" إذا استعنت فاستعن بالله "
“Apabila kamu minta tolong mintalah pertolongan kepada Allah”

S : Apa dalilnya bahwa Isti’adzah (minta perlindungan) itu adalah ibadah ?
J : Firman Allah Ta’ala :
( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ) (الناس:١)
“Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhannya manusia. (QS. An Naas : 1)
S : Apa dalilnya bahwa Istighastah (mohon pertolongan saat genting) itu adalah ibadah ?
J : Firman Allah Ta’ala :
(إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ )(لأنفال:٩)
“(ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu”. (QS. Al Anfal : 9)
S : Apa dalilnya bahwa menyembelih korban itu adalah ibadah ?
J : Firman Allah Ta’ala :
( قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ) (الأنعام: ١٦۲-١٦٣)
162. Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
163. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan Aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (QS. Al An’am : 162-163)

Dan dalil dari sunnah adalah sabda Rasulullah :
" لَعَنَ الله ُمَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ “
“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah”
S : Apa dalilnya bahwa nadzar itu adalah ibadah ?
J : Firman Allah Ta’ala :
( يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْماً كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيراً) (الانسان:۷)
“Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana”. (QS. Al Insan : 7)
S : Apa pokok yang kedua (yang wajib dipelajari) ?
J : Mengenal Agama Islam disertai dalil-dalilnya.

S : Apa Islam itu ?
J : Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya dan tunduk dengan taat kepada-Nya dan berlepas diri dari syirik dan pelaku syirik.
S : Berapakah tingkatan agama itu ?
J : Tingkatan agama ada tiga yaitu : Al Islam, Al Iman, dan Al Ihsan. Masing-masing tingkatan memiliki rukun.
S : Berapakah rukun Islam itu ?
J : Rukun Islam ada lima yaitu :
1. شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله
Syahadat/bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah
2. إقام الصلاة Menegakkan sholat
3. إيتاء الزكاة Menunaikan zakat
4. صوم رمضان Puasa Ramadhan
5. حج بيت الله الحرام Haji ke Baitullah Al Haram

S : Apa dalilnya syahadat لا إله إلا الله أن ?
J : Firman Allah Ta’ala :
( شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِماً بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ) (آل عمران:١٨)
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al Imran : 18)

S : Apa makna لا إله إلا الله ?
J : maknanya : tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah
S : Apa maksud dari ( لا إله )
J : Maksudnya adalah meniadakan seluruh apa yang disembah selain Allah
S : Apa maksud dari ( إلا الله )
J : Maksudnya menetapkan ibadah hanya untuk Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya dalam peribadahan kepada-Nya, sebagaimana tiada sekutu bagi-Nya pada kekuasaan-Nya.
S : Apa tafsir yang memperjelas hal tersebut ?
J : Firman Allah Ta’ala :

( وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ) ( إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ) (وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ) (الزخرف: ۲٦ -۲٨)
26. Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Sesungguhnya Aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah,
27. Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku; Karena Sesungguhnya dia akan memberi hidayah kepadaku".
28. Dan (lbrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal (sebagai pegangan) pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.” (QS. Az Zuhruf : 26-28)

Dan Firman Allah Ta’ala :

(قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ) (آل عمران:٦٤)
“Katakanlah: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS. Ali Imran : 64)

S : Apa dalilnya شهادة أن محمداً رسول الله ?
J : Firman Allah Ta’ala :

( لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ) (التوبة:١۲٨)
128. Sungguh Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. At Taubah : 128)
S : Apa makna شهادة أن محمداً رسول الله ?
J : - Mentaatinya terhadap apa yang beliau perintah.
- Membenarkan terhadap apa yang beliau kabarkan.
- Meninggalkan apa yang beliau larang, dan
- Tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syariatkan.

S : Apa dalilnya sholat, zakat sekaligus tafsirnya tauhid ?
J : Firman Allah Ta’ala :
( وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ) (البينة:٥)
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”. (QS. Al Bayyinah : 5)

S : Apa dalilnya puasa ?
J : Firman Allah Ta’ala :
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ) (البقرة:١٨٣)
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al Baqarah : 183)

S : Apa dalilnya haji ?
J : Firman Allah Ta’ala :
( وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ)(آل عمران:٩۷)
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (QS. Ali Imran : 97)

S : Apa tingkatan kedua dari tingkatan agama Islam ?
J : Tingkatan kedua adalah iman
S : Berapakah cabang iman itu ?
J : Cabang iman ada 73 cabang, yang paling tinggi adalah ucapan ( لا إله إلا الله ) dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan dan malu adalah cabang dari iman.
S : Berapakah rukun iman itu ?
J : Ada enam yaitu engkau beriman kepada :
1. Allah
2. Para Malaikat-Nya
3. Kitab-kitab-Nya
4. Para Rasul-Nya
5. Hari Akhir
6. dan engkau beriman kepada Taqdir yang baik dan yang buruk
S : Apa dalilnya tentang hal itu ?
J : Firman Allah Ta’ala :
(لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ )(البقرة : ١۷۷)
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi..”. (QS. Al Baqarah :177)

S : Apa dalilnya taqdir ?
J : Firman Allah Ta’ala :
(إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ) (القمر:٤٩)
“Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran taqdir”. (QS. Al Qamar : 49)
S : Apakah tingkatan agama Islam yang ketiga ?
J : Tingkatan agama Islam yang ketiga adalah Ihsan

S : Apa itu ihsan ?
J : Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan engkau melihat-Nya maka jika engkau tidak melihat-Nya maka (yakini) bahwa Dia melihatmu.
S : Apa dalilnya ?
J : Firman Allah Ta’ala :
(إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ) (النحل:١۲٨)
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS. An Nahl : 128)

Dan Firman Allah Ta’ala :
(وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ) (الشعراء: ۲١۷-۲۲٠)
“ Dan bertawakkallah kepada (Allah) yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sholat). Dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya dia adalah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. As Syu’ara : 217-220)

Dan Firman Allah Ta’ala :
(وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوداً إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ )(يونس : ٦١)
“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya”. (QS. Yunus :61)

S : Apa dalil dari hadits tentang tiga tingkatan dalam agama tersebut ?
J : Dalilnya dari Sunnah, ialah Hadits Jibril yang masyhur, yang diriwayatkan dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ النَّبِي صلى الله عليه وسلم إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتىَّ جَلَسَ إِليَ النَّبيِ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِليَ رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلىَ فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنيِ عَنِ الإِْسْلاَمِ فَقَالَ " أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاَ " فَقَالَ صَدَقْتَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنيِ عَنِ الإِْيْمَانِ قَالَ " أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَبِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ " قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنيِ عَنِ الإِحْسَانِ قَالَ " أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لمَ ْتَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ " قَالَ فَأَخْبِرْنيِ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ " مَا المَْسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ " قَالَ فَأَخْبِرْنيِ عَنْ أَمَارَتِهَا قَالَ " أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الحُفَّاةَ العُرَاةَ العَالَةَ رِعَاءَ الشَاءِ يَتَطَاوَّلُّوْنَ فيِ الْبُنْيَانِ " قَالَ فَمَضَى فَلَبِثْنَا مَلِيًا فَقَالَ " يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ " قُلْتُ اَلله ُوَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ قَالَ " هَذَا جَبْرَئِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ أَمْرَ دِيْنِكُمْ .
“Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi , tiba-tiba muncul ke arah kami seorang laki-laki, sangat putih pakaiannya, hitam pekat rambutnya, tidak tampak pada tubuhnya tanda-tanda sehabis dari bepergian jauh dan tiada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Lalu orang itu duduk di hadapan Nabi , dengan menyandarkan lututnya pada kedua lutut beliau serta meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha beliau, dan berkata : ‘Ya Muhammad, beritahulah aku tentang Islam’, maka beliau menjawab :’Yaitu : bersyahadat bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah serta Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melakukan puasa bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika kamu mampu untuk mengadakan perjalanan ke sana’. Lelaki itu pun berkata : ‘engkau Benar’. Kata Umar:’Kami merasa heran kepadanya, ia bertanya kepada beliau, tetapi juga membenarkan beliau. Lalu ia berkata : ‘Beritahulah aku tentang Iman’. Beliau menjawab :’Yaitu : Beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan hari Akhirat, serta beriman kepada Qadar yang baik dan yang buruk’. Ia pun berkata : ‘engkau Benar’. Kemudian ia berkata : ‘Beritahulah aku tentang Ihsan’. Beliau menjawab :Yaitu : Beribadah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu’. Ia berkata lagi. Beritahulah aku tentang hari Kiamat. Beliau menjawab : ‘Orang yang ditanya tentang hal tersebut tidak lebih tahu dari pada orang yang bertanya’. Akhirnya ia berkata :’Beritahulah aku sebagian dari tanda-tanda Kiamat itu’. Beliau menjawab : Yaitu : ‘Apabila ada hamba sahaya wanita melahirkan tuannya dan apabila kamu melihat orang-orang tak beralas kaki, tak berpakaian sempurna melarat lagi, pengembala domba saling membangga-banggakan diri dalam membangun bangunan yang tinggi’. Kata Umar : Lalu pergilah orang laki-laki itu, semantara kami terdiam sejenak, sehingga Nabi bertanya : Hai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu ? Aku menjawab : Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau pun bersabda : ‘Dia adalah Jibril, datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian”. (Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya).

S : Apakah pokok yang ketiga (yang wajib dipelajari)?
J : MENGENAL NABI KITA MUHAMMAD
Beliau adalah Muhammad bin ‘Abdullah, bin ‘Abdul Muthallib, bin Hasyim. Dan Hasyim adalah termasuk suku Quraisy, suku Quraisy termasuk bangsa Arab, dan bangsa Arab adalah termasuk keturunan Nabi Isma’il, putera Nabi Ibrahim Al-Khalil. Semoga Allah melimpahkan kepadanya dan kepada Nabi kita seutama-utamanya shalawat dan salam.

S : Berapa umur Nabi ?
J : Beliau berumur 63 tahun, diantaranya 40 tahun sebelum beliau diangkat menjadi nabi dan 23 tahun sebagai nabi dan rasul.

Beliau diangkat sebagai nabi dengan “Iqra” (surah Al-’Alaq : 1-5), dan diangkat sebagai rasul dengan surah Al-Mudatstsir.
Tempat asal beliau adalah Makkah.

S : Dengan apa beliau diutus Allah ?
J : Beliau diutus Allah untuk menyampaikan peringatan menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid.
S : Apa dalilnya ?
J : Firman Allah تعالى :
(يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ وَلا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ) (المدثر: ١-۷)
1. Hai orang yang berberselimut,
2. Bangunlah, lalu berilah peringatan!
3. Dan Tuhanmu agungkanlah!
4. Dan pakaianmu bersihkanlah,
5. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah,
6. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
7. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

S : Apa pengertian (قُمْ فَأَنْذِرْ) “Sampaikanlah peringatan” ?
J : Pengertian : “Sampaikanlah peringatan”, ialah berikan peringatan untuk menjauhi syirik dan serulah kepada tauhid.

S : Apa pengertian(وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ) “Agungkanlah Tuhanmu, dan (وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ) “Sucikanlah pakaianmu”. ?
J : Pengertiannya adalah Agungkanlah Ia dengan bertauhid (beribadah hanya kepada-Nya semata), dan “Sucikanlah pakaianmu”, maksudnya : Sucikanlah segala amalmu dari perbuatan syirik.
S : Apa pengertian (وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ) dan “Ar Rujzu” maka tinggalkanlah
J : Pengertiannya adalah “Tinggalkanlah berhala-berhala itu”, dan “Hajruha” yaitu meninggalkannya beserta orang-orangnya dan berlepas diri darinya serta orang-orang yang memujanya.

S : Berapa lama beliau melakukannya ?
J : Beliaupun melaksanakan perintah ini selama sepuluh tahun, (mengajak kepada tauhid). Setelah sepuluh tahun itu beliau di mi’rajkan (diangkat naik) ke atas langit dan disyari’atkan kepada beliau shalat lima waktu. Beliau melakukan shalat di Makkah selama tiga tahun. Kemudian, sesudah itu, beliau diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah.
S : Apa hijrah itu ?
J : Hijrah ialah : Pindah dari negeri syirik ke negeri Islam. Dan dari lingkungan bid’ah ke lingkungan sunnah.
S : Apa hukumnya?
J : Hukum hijrah : bahwa Hijrah ini merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan umat Islam berlaku dari negeri syirik ke negeri Islam. Dan kewajiban tersebut hukumnya tetap berlaku sampai terbitnya matahari dari arah barat (hari kiamat).

S : Apa dalilnya ?
J : Firman Allah Ta’ala :
(إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيراً. إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلا يَهْتَدُونَ سَبِيلاً. فَأُولَئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوّاً غَفُوراً) (النساء: ٩۷-٩٩)
97. Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri[*], (kepada mereka) malaikat bertanya : "Dalam keadaan bagaimana kalian ini?". mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kalian dapat berhijrah di bumi itu?". orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,
98. Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah),
99. Mereka itu, Mudah-mudahan Allah memaafkannya. dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. (QS. An Nisa’ : 97-99)

[*] yang dimaksud dengan orang yang menganiaya diri sendiri di sini, ialah orang-orang muslimin Makkah yang tidak mau hijrah bersama nabi sedangkan mereka sanggup. mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir ikut bersama mereka pergi ke perang Badar; akhirnya di antara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu.
Dan Firman Allah Ta’ala :
( يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ) (العنكبوت: ٥٦)
Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, Sesungguhnya bumi-Ku luas, Maka sembahlah Aku saja. ( Qs. Al Ankabut :56)
S : Apa yang menjadi sebab turunya ke dua ayat tersebut ?
J : Sebab turunnya ayat yang pertama : Bahwasannya orang-orang dari penduduk Makkah telah masuk Islam dan mereka tertinggal tidak ikut hijrah bersama Rasulullah , dan sebagaian mereka mendapatkan ujian dan ikut bersama orang musyrik berperang pada perang Badar. Maka Allah enggan menerima udzur mereka maka mereka dibalasi jahanam.

Adapun ayat yang kedua, sebab turunnya, bahwa ”Ayat ini adalah ditujukan kepada orang-orang muslim yang masih berada di Makkah, yang mereka itu belum juga berhijrah. Karena itu, Allah menyeru kepada mereka dengan sebutan orang-orang yang beriman dan Allah memerintahkan untuk berhijrah”.

S : Apa dalil dari hadits yang menunjukkan tetap berlakunya hijrah ?
J : Sabda Nabi :

" لاَ تَنْقَطِعُ الْهِجْرَةُ حَتَّى تَنْقَطِعَ التَّوْبَةُ وَلاَ تَنْقَطِعُ التَّوْبَةُ حَتىَّ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا "
“Artinya : Hijrah tetap akan berlangsung selama pintu taubat belum ditutup, sedang pintu taubat tidak akan ditutup sebelum matahari terbit dari barat”.

S : Apa yang diperintahkan kepada Nabi setelah tinggal di Madinah ?
J : Disyariatkan kepada beliau syariat Islam yang lainnya berupa zakat, puasa, haji, adzan, jihad, amar ma’ruf dan nahi mungkar, dan syariat-syariat Islam lainnya.
S : Berapa lama beliau menjalaninya ?
J : Beliau-pun melaksanakan untuk menyampaikan hal ini selama sepuluh tahun. Sesudah itu wafatlah beliau, sedang agamanya tetap dalam keadaan lestari. Dan demikian inilah agama beliau tidak ada satu kebaikanpun kecuali beliau telah menunjukkannya kepada ummat, dan tidak ada satu kejelekanpun kecuali beliau telah memperingatkan untuk dijauhi.

S : Kebaikan apa yang ditunjukkan kepada ummat dan kejelekan apa yang beliau peringatkan ?
J : Kebaikan yang beliau tunjukkan ialah tauhid serta segala apa yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, sedangkan keburukan yang beliau peringatkan supaya dijauhi adalah syirik dan segala yang dibenci dan tidak disenangi Allah.
S : Apakah beliau diutus Allah khusus untuk bangsa tertentu atau untuk seluruh manusia ?
J : Allah mengutus beliau untuk manusia seluruhnya dan Allah wajibkan atas seluruh jin dan manusia untuk mentaati beliau

S : Apa dalilnya ?
J : Firman Allah Ta’ala :
(قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً)(لأعراف : ١٥٨)
Katakanlah: "Hai manusia Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepada kalian semua,” (QS. Al A’raf : 158)
Dan Firman Allah Ta’ala :

“Dan (Ingatlah) ketika kami hadapkan serombongan jin kepadamu (Muhammad) yang mendengarkan Al Quran”, (QS. Al Ahqaf : 29)
S : Apakah melalui beliau, Allah telah menyempurnakan agama-Nya atau Allah menyempurnakan setelah beliau meninggal ?
J : Ya, Allah menyempurnakan agama melalui beliau (bahkan sebelum beliau meninggal) sehingga tidak membutuhkan sedikitpun tambahan untuk agama ini sepeninggal beliau.

S : Apa dalilnya ?
J : Firman Allah Ta’ala:
( الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً)(المائدة:٣)
“..Pada hari ini(*), telah Aku sempurnakan untuk kalian agama-kalian dan Aku lengkapkan kepada kalian ni’mat-Ku serta Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian”.(QS. Al-Maaidah : 3)
(*) adalah hari Jum’at ketika wukuf di Arafah, pada waktu Haji Wada.

S : Apakah dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah wafat ?
J : Firman Allah Ta’ala :
(إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ) (الزمر: ٣٠-٣١)
Artinya :”Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka-pun akan mati (pula). Kemudian, sesungguhnya kamu nanti pada hari kiamat berbantah- bantahan di hadapan Tuhanmu”. (QS. Az-Zumar : 30-31).

S : Apakah manusia bakal dibangkitkan setelah matinya ?
J : Ya, setelah manusia mati, mereka akan dibangkitkan kembali.

S : Apa dalilnya ?J : Firman Allah Ta’ala :
(مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى) (طـه:٥٥)
“Dari bumi (tanah) Itulah kami menjadikan kamu dan kepadanya kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain”. (QS. Thaa-haa : 55).

Dan Firman Allah Ta’ala :
(وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتاً) (ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجاً) (نوح: ١۷ -١٨)
“Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, Kemudian dia mengambalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya”. (QS. Nuh : 17-18).

S : Apa yang dialami setelah manusia dibangkitkan ?
J : Setelah manusia dibangkitkan, mereka akan di hisab dan diberi balasan sesuai dengan amal perbuatan mereka.

S : Apa dalilnya ?
J : Firman Allah Ta’ala :

( وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى) (لنجم:٣١)
“Dan hanya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat buruk sesuai dengan perbuatan mereka dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan (pahala) yang lebih baik (surga)”. (QS. An-Najm : 31).

S : Bagaimana hukum orang yang tidak mempercayai hari kebangkitan ?
J : Barangsiapa yang tidak mengimani hari kebangkitan, maka dia adalah kafir.
S : Apa dalilnya ?
J : Firman Allah Ta’ala :
(زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ) (التغابن:۷(

“Artinya : Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakan : ‘Tidaklah demikian. Demi Tuhanku, kamu pasti akan dibangkitkan dan niscaya akan diberitakan kepadamu apapun yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah amat mudah bagi Allah”. (QS. At-Taghaabun : 7)

S : Apa fungsi diutusnya Para Rasul ?
J : Allah telah mengutus semua rasul sebagai penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan.

S : Mana Dalilnya ?
J : Firman Allah Ta’ala :
(رُسُلاً مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ )(النساء::١٦٥ )
“Artinya : (Kami telah mengutus) rasul-rasul menjadi penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan supaya tiada lagi suatu alasan bagi manusia membantah Allah setelah (diutusnya) para rasul itu”. (QS. An-Nisa’ :165)

S : Siapakah rasul yang pertama ? dan siapa rasul terakhir ?
J : Rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘Alaihissalam, Dan rasul terkahir adalah Nabi Muhammad , serta beliaulah penutup para nabi.

S Apa dalilnya ?
J : Firman Allah Ta’ala :
(إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِه)(النساء: :١٦٣)
Artinya : Sesungguhnya Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan para nabi sesudahnya ..” (QS. An-Nisaa : 163).

S : Apa dakwah yang diemban oleh setiap rasul kepada umatnya ?
J : Dakwah para Rasul adalah dakwah tauhid yaitu memerintahkan ummatnya untuk beribadah hanya kepada Allah semata dan melarang beribadah kepada thagut (sesembahan selain Allah).

S : Apa dalilnya ?
J : Firman Allah Ta’ala :
(وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ )(النحل: :٣٦)
“Artinya : Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (untuk menyerukan) :’Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thagut itu ..”. (An-Nahl : 36).
S : Apa itu Thagut ?
J : Ibnul Qayyim Rahimahullah Ta’ala, telah menjelaskan pengertian thagut dengan mengatakan. “Thagut, ialah setiap yang diperlakukan manusia secara melampui batas (dari yang ditentukan oleh Allah), berupa disembah, atau diikuti atau ditaati”.

S : Berapa jumlah thagut ?
J : Thagut itu banyak macamnya, tokoh-tokohnya ada lima :
1) Iblis, yang telah dilaknat oleh Allah.
2) Orang yang disembah, dalam keadaan dia rela.
3) Orang yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya.
4) Orang yang mengaku tahu yang ghaib, dan
5) Orang yang berhukum dengan hukum selain yang diturunkan oleh Allah.
S : Apa dalilnya ?
J : Firman Allah Ta’ala :
(لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ) (البقرة:٢٥٦)
“Artinya : Tidak ada paksaan dalam (memeluk) agama ini. Sungguh telah jelas kebenaran dari kesesatan. Untuk itu, barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka dia benar-benar telah berpegang teguh dengan tali yang terkuat, yang tidak akan terputus tali itu. an Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah : 256)

Ingkar kepada semua thagut dan iman kepada Allah saja, sebagaimana dinyatakan dalam ayat tadi, adalah hakekat syahadat “Laa Ilaaha Ilallah”.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda :
" رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعُمُوْدُهُ اَلصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ اَلْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ "
Artinya : “Pokok agama ini adalah Islam (syahadat), dan tiangnya adalah shalat, sedang puncak bangunannya adalah jihad fi sabilillah”. (Hadits Shahih riwayat Ath-Thabarani dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu, dan riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jaami Ash-Shahih, kitab Al-Imaan, bab 8).

والله أعـلــم

Hanya Allah-lah Yang Maha tahu.
Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad kepada keluarga dan para shahabatnya.

Bontang, 16 Muharram 1427 H/ 15 Feb. 2006 M
Diterjemahkan dari kitab “ TASHIL AL-USHUL ATS-TSALATSAH”

oleh :
Abu Abdillah Muhammad Rifa’i Al Maghatani
sumber: www.darussalaf.or.id


Sampaikan ke teman,ortu,saudara
Biar jadi amal jariyah


Melecehkan Ulama, Ciri Ahli Bid'ah, Yahudi & Ahli Kitab

Penulis: Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi Al Atsari

Tingginya Kedudukan Ulama

Predikat orang alim, berilmu, dan menguasai urusan agama (syariat) merupakan anugerah agung dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dzat Yang Maha ‘Alim. Titian jalan yang ditempuhnya senantiasa mendapat iringan barakah Ilahi. Kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala pun berada pada tingkatan yang tinggi lagi mulia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجاَتٍ
“ Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (Al-Mujadilah: 11)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata : “Oleh karena itu kita dapati orang-orang yang berilmu selalu menyandang pujian. Setiap (nama mereka) disebut, pujian pun tercurah untuk mereka. Ini merupakan wujud diangkatnya derajat (mereka) di dunia. Adapun di akhirat, akan menempati derajat yang tinggi lagi mulia sesuai dengan apa yang mereka dakwahkan di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan realisasi dari ilmu yang mereka miliki.” (Kitabul Ilmi, hal.14)

Merekalah sejatinya referensi utama dalam menyibak perkara-perkara yang musykil. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ
“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.” (An-Nahl: 43).

Oleh karena itu, keberadaan mereka di tengah umat sangatlah berarti, sedangkan ketiadaan mereka merupakan suatu bencana.
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Selagi para ulama masih ada, umat pun masih dalam kebaikan. Para setan dari kalangan jin dan manusia tidak akan leluasa untuk menyesatkan mereka. Karena para ulama tidak akan tinggal diam untuk menerangkan jalan kebaikan dan kebenaran sebagaimana mereka selalu memperingatkan umat dari jalan kebinasaan.” (Ma Yajibu Fit Ta’amuli Ma’al Ulama, hal. 7)

Teladan As-Salafush Shalih Dalam Memuliakan Ulama

Bila kita buka catatan sejarah, niscaya akan kita lihat kehidupan as-salafus shalih yang diwarnai oleh akhlakul karimah. Memuliakan dan menjunjung tinggi ulama merupakan bagian dari prinsip kehidupan mereka. Perhatikanlah secercah cahaya dari kehidupan mereka ini:
- Shahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma, suatu hari menuntun hewan tunggangan yang dinaiki shahabat Zaid bin Tsabit radhiallahu 'anhu, seraya beliau berkata: “Seperti inilah kita diperintah dalam memperlakukan ulama.”

- Ketika Al-Imam Al-Auza’i rahimahullah menunaikan ibadah haji dan masuk ke kota Makkah, maka Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menuntun tali kekang ontanya seraya mengatakan: “Berilah jalan untuk Syaikh!”. Sedangkan Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah menggiring onta tersebut (dari belakang) hingga mereka persilahkan Al-Auza’i duduk di sekitar Ka’bah. Kemudian mereka berdua duduk di hadapan Al-Imam Al-Auza’i rahimahullah untuk menimba ilmu darinya.
- Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Dahulu aku membuka lembaran-lembaran kitab di hadapan Al-Imam Malik dengan perlahan-lahan agar tidak terdengar oleh beliau, karena rasa hormatku pada beliau yang sangat tinggi.” (Dinukil dari Kitab Ad-Diin Wal ‘Ilm, hal. 27)

Demikianlah seharusnya yang terpatri dalam hati sanubari setiap insan muslim, tidak seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi terhadap ulama dan nabi mereka. Dan tidak pula seperti ahlul bid’ah yang selalu melecehkan ulama umat ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Maka wajib bagi seluruh kaum muslimin -setelah mencintai Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya- untuk mencintai orang-orang yang beriman sebagaimana yang telah disebutkan di dalam Al Qur’an, terkhusus para ulama sang pewaris para Nabi, yang diposisikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala bagaikan bintang-bintang di angkasa yang jadi petunjuk arah di tengah gelapnya daratan maupun lautan. Kaum muslimin pun sepakat bahwa para ulama merupakan orang-orang yang berilmu dan dapat membimbing ke jalan yang lurus.” (Raf’ul Malam ‘Anil Aimmatil A’lam, hal. 3)
Lebih dari itu, melecehkan ulama merupakan ghibah dan namimah yang paling berat (termasuk dosa besar). Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Menggunjing ulama, melecehkan, dan menjelek-jelekkan mereka merupakan jenis ghibah dan namimah yang paling berat, karena dapat memisahkan umat dari ulamanya dan terkikisnya kepercayaan umat kepada mereka. Jika ini terjadi, akan muncul kejelekan yang besar.” (Ma Yajibu Fit Ta’amuli Ma’al Ulama, hal. 17)

Kebejatan Akhlak Orang-Orang Yahudi Terhadap Ulama dan Para Nabi

Tatanan kehidupan mulia ini yakni memuliakan ulama, sangatlah jauh dari kehidupan orang-orang Yahudi. Titah Ilahi yang terkandung di dalam Al-Qur’an telah cukup menggambarkan bagaimana bejatnya akhlak mereka terhadap ulama. Bahkan terhadap para Nabi yang diutus Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada mereka. Pelecehan, penghinaan, bahkan pembunuhan kerap mereka lakukan terhadap orang-orang mulia itu.

قَالُوا يَا مُوْسَى إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَّا دَامُوا فِيهَا، فاَذْهَبْ أَنْتَ وَ رَبُّكَ فَقَاتِلآ إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ
“Mereka berkata: ‘Wahai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya (menaklukkan Palestina), selagi mereka (orang-orang yang gagah perkasa itu) ada di dalamnya. Maka dari itu pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (Al-Maidah: 24)

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَ قَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ، وَءَاتَيْنَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ، أَفَكُلَّمَا جَآءَكُمْ رَسُولٌ بِّمَا لاَ تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَّذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa. Dan telah Kami susulkan (berturut-turut) sesudah itu rasul-rasul. Dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada ‘Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus (Malaikat Jibril). Apakah setiap kali datang kepada kalian seorang Rasul membawa sesuatu (ajaran) yang tidak sesuai dengan keinginan kalian, lalu kalian bersikap angkuh? Maka beberapa orang (di antara mereka) kalian dustakan dan beberapa orang (yang lain) kalian bunuh?!” (Al-Baqarah: 87)

قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنْبِيَآءَ اللهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
“Katakanlah: ‘Mengapa kalian dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika kalian benar-benar orang yang beriman?’.” (Al-Baqarah: 91)

Demikianlah sekelumit kebejatan, kebobrokan, dan kebrutalan orang-orang Yahudi. Perilaku mereka merupakan potret suatu kaum yang dikendalikan oleh hawa nafsu, durhaka lagi melampaui batas. Tak segan-segan di dalam meluluskan kehendak hawa nafsunya itu, mereka membinasakan orang-orang yang membimbing mereka ke jalan yang lurus. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala timpakan kepada mereka nista, kehinaan, kemurkaan, dan kutukan.

وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَآءُو بِغَضَبٍ مِّنَ اللهِ، ذَالِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِئَايَاتِ اللهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّيْنَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَالِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ
“Lalu ditimpakanlah kepada mereka (orang-orang Yahudi) nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.” (Al-Baqarah: 61)

وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ لَعَنَهُمُ اللهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلاً مَّا يُؤْمِنُونَ
“Dan mereka berkata: ‘Hati kami tertutup.’ Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka. Maka sedikit sekali dari mereka yang beriman.” (Al-Baqarah: 88)

Ahlul Bid’ah Pewaris Akhlaq Orang-orang Yahudi

Adapun ahlul bid’ah dari umat ini, sesungguhnya mereka pewaris dan pemegang tongkat estafet akhlaq bejat orang-orang Yahudi. Sikap melecehkan ulama sunnah merupakan ciri utama ahlul bid’ah di setiap generasi dan kurun waktu.
Al-Imam Ahmad bin Sinan Al-Qaththan rahimahullah berkata: “Tidak ada seorang pun dari ahlul bid’ah di dunia ini kecuali benci terhadap ahlul hadits (Ahlus Sunnah wal Jamaah)”. (Syaraf Ash-habil Hadits, karya Al-Khathib Al-Baghdadi rahimahullah, hal. 73)
Al-Imam Isma’il bin Abdurrahman Ash-Shabuni rahimahullah berkata: “Tanda dan ciri mereka yang utama adalah permusuhan, penghinaan dan pelecehan yang luar biasa terhadap pembawa hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam (ulama)”. (Aqidatus Salaf Ash-habil Hadits, hal.116)
Al-Imam Abu Hatim Ar-Razi rahimahullah berkata: “Ciri-ciri ahlul bid’ah adalah melecehkan ahlul atsar (Ahlus Sunnah wal Jamaah).” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, karya Al-Lalikai rahimahullah, 1/200).

Pelecehan mereka itu menerpa ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah baik secara umum ataupun secara khusus (individu tertentu). Adapun secara umum, sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Imam Abu Hatim Ar-Razi rahimahullah: “Ciri utama Zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran) adalah menjuluki Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan Hasyawiyyah, dalam rangka menggugurkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ciri utama Jahmiyyah adalah menjuluki Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan Musyabbihah. Ciri utama Qadariyyah adalah menjuluki Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan Mujbirah. Ciri utama Murjiah adalah menjuluki Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan Mukhalifah dan Nuqshaniyyah. Ciri utama Syi’ah Rafidhah adalah menjuluki Ahlus Sunnah dengan Naashibah.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/201)

Adapun pelecehan secara khusus (terhadap individu tertentu) maka ahlul bid’ah dan para pengikutnya tak segan-segan melakukannya. Kaum Syi’ah Rafidhah melecehkan, bahkan mengkafirkan sebagian besar para shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Demikian pula Khawarij, memberontak terhadap khalifah ‘Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu kemudian membunuhnya dengan sadis. Tak luput pula pengkafiran mereka terhadap semua yang terlibat dalam peristiwa tahkim (di kalangan shahabat dan tabi’in). Kelompok Jahmiyah Mu’tazilah pun demikian garangnya terhadap ulama sunnah, khususnya di masa Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Kelompok Sufi tak ketinggalan di dalam melecehkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Al-Imam Ibnul Qayyim, dan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumullah. Tulisan Muhammad Zahid Al-Kautsari sangat penuh dengan tikaman terhadap ulama As-Sunnah seperti: Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafi’i, Al-Imam Ahmad, Abdullah bin Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Utsman bin Sa’id Ad-Darimi, Ibnu Abi Hatim, Ad-Daraquthni, Al-Hakim, Al-Humaidi, Abu Zur’ah Ar-Razi, Abu Dawud, Adz-Dzahabi dan yang lainnya. (Lihat At-Tankil, karya Asy-Syaikh Al-Mu’allimi rahimahullah).

Tulisan-tulisan Sayyid Quthb juga banyak dengan tikaman terhadap Nabi Musa, shahabat ‘Utsman bin Affan, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan ‘Amr bin Al-‘Ash. (Lihat Adhwa Islamiyah ‘Ala ‘Aqidati Sayyid Quthb Wa Fikrihi dan Matha’in Sayyid Quthb Fi Ash-habi Rasulillah, karya Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali). Demikian pula goresan-goresan pena Abu Rayyah sarat akan pelecehan terhadap para shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. (Lihat Al-Anwarul Kasyifah, karya Asy-Syaikh Al-Mu’allimi)

Muhammad Al-Ghazali juga sangat tajam tikamannya terhadap ulama sunnah (lihat Al-Irhab, karya Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad Al-Madkhali, hal. 132-133). Adapun Abdurrahman Abdul Khaliq, maka ia termasuk kreator penikaman terhadap ulama sunnah abad ini (sebagaimana dalam kitabnya Khuthuth Ra’isiyyah Liba’tsil Ummatil Islamiyyah) [1]. Tak kalah pula pelecehan terhadap ulama sunnah (abad ini) yang dilakukan oleh Salman bin Fahd Al-‘Audah dalam kasetnya Waqafaat Ma’a Imami Daril Hijrah dan tanya jawabnya dengan majalah Al-Ishlah Emirat [2], ‘Aidh Al-Qarni dalam Qashidah “Da’il Hawasyi Wakhruj” yang terdapat dalam kitabnya Lahnul Khulud hal. 46-47 [3], Nashir Al-‘Umar dalam kitabnya Fiqhul Waqi’ [4] dan Safar Hawali dalam kasetnya Fafirruu Ilallah [5]. Lebih-lebih lagi yang dilakukan oleh Muhammad Surur bin Nayef Zainal Abidin dalam majalah “As-Sunnah”-nya (yang lebih pantas disebut Al-Bid’ah) [6] dan juga Muhammad bin Abdillah Al-Mas’ari [7]. Betapa kasar dan arogannya pelecehan mereka itu.

Apakah Pelecehan itu Benar sesuai Kenyataan?

Al-Imam Isma’il bin Abdurrahman Ash-Shabuni rahimahullah berkata: “Aku melihat, julukan-julukan yang ditujukan kepada Ahlus Sunnah itu justru tertuju kepada ahlul bid’ah sendiri. Dan tidak satupun dari julukan-julukan tersebut yang mengena -karena keutamaan dan jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala -.

Didalam menyikapi ahlus sunnah, mereka meniru metode musyrikin (Makkah) -semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melaknati mereka- ketika menyikapi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu dengan memberikan julukan-julukan (palsu) kepada beliau. Sebagian dari mereka menjulukinya “tukang sihir”, sebagian lagi menjulukinya “dukun”, “penyair”, “orang gila”, “orang yang terfitnah”, “pembual”, dan “pendusta”. Namun Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersih dari semua julukan tersebut, dan tidak lain beliau adalah seorang rasul, manusia pilihan dan nabi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ اْلأَمْثَالَ فَضَلُّوا فَلاَ يَسْتَطِيعُونَ سَبِيْلاً

“Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentang kamu, lalu sesatlah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu).” (Al-Furqan: 9)

Demikian pula ahlul bid’ah -semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala hinakan mereka- yang memberikan julukan-julukan (palsu) kepada para ulama pembawa hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang selalu mengikuti jejak beliau dan berpegang teguh dengan sunnahnya (yang dikenal dengan Ashhabul hadits). Sebagian ahlul bid’ah menjuluki mereka dengan Hasyawiyyah, sebagian lagi menjuluki dengan Musyabbihah, Nabitah, Nashibah, dan Jabriyyah. Namun tentu saja ashhabul hadits sangatlah jauh dan bersih dari julukan-julukan negatif itu. Dan mereka tidak lain adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang mulia, jalan yang diridhai lagi lurus, serta hujjah-hujjah yang kuat lagi kokoh.” (Aqidatus Salaf Ash-habil Hadits, hal 119-120)

Di Balik Pelecehan Ulama

Mungkin kita akan tertegun, mengapa pelecehan terhadap orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta'ala muliakan ini terjadi? Ketahuilah bahwa di balik pelecehan ulama ada misi yang terselubung sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah: “Yang demikian itu dalam rangka untuk memisahkan umat dari ulamanya. Sehingga (bila berhasil) akan mudah bagi mereka (Ahlul Bid’ah) untuk menyusupkan berbagai kerancuan pemikiran dan kesesatan yang dapat menyesatkan umat dan memecah belah kekuatan mereka. Itulah misi yang mereka inginkan, maka hendaknya kita waspada.” (Ma Yajibu Fit Ta’amuli Ma’al Ulama, hal. 17)

Penutup
Dari bahasan di atas, dapat kita petik beberapa pelajaran berharga, yakni:
1. Melecehkan ulama merupakan kebiasaan orang-orang Yahudi dan ahlul bid’ah.
2. Melecehkan ulama bermudharat bagi diri sendiri, karena ia termasuk ghibah dan namimah (yang keduanya merupakan dosa besar).
3. Melecehkan ulama bermudharat bagi umat, karena ia dapat memisahkan umat dari ulamanya, dan terkikisnya nilai kepercayaan umat kepada mereka.
Atas dasar inilah, maka melecehkan ulama merupakan perbuatan tercela dan diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang selalu memuliakan para ulama dan semoga pula lisan kita selalu basah dengan untaian kata:

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُوناَ بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِناَ غِلاًّ لِّلَّذِينَ أَمَنُوا رَبَّناَ إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ .

“Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami. Dan janganlah Engkau biarkan kedengkian terhadap orang-orang yang beriman bercokol pada hati kami, Yaa Allah sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 10)
Amin Yaa Rabbal ‘Alamin…

Catatan kaki :
[1] Diantara pelecehannya terhadap ulama tauhid secara umum adalah: “Dan saat ini sangat disayangkan kita tidak mempunyai ulama kecuali orang-orang yang memahami Islam dengan pemahaman tradisional…”
Dan juga perkataannya: “Kita tidak inginkan barisan dari ulama mummi (jasadnya ada, namun pola pikirnya kuno, pen).”
Adapun pelecehannya terhadap ulama besar Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi rahimahullah adalah: “Dia ibarat perpustakaan berjalan, namun cetakan lama yang perlu direvisi.” Dan juga perkataannya: “Orang ini tidak mampu menjawab syubhat yang dilancarkan oleh musuh-musuh Allah, bahkan tidak ada kesiapan untuk mendengarkan syubhat tersebut.” (Dinukil dari Jama’ah Wahidah Laa Jama’at, karya Asy-Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, hal. 119-120).

[2] Salman Al-‘Audah berkata: “Di dunia Islam saat ini sangat banyak lembaga-lembaga yang jauh dari agama, dan terkadang lembaga tersebut bertanggungjawab tentang fatwa atau urusan agama namun yang dilakukan sebatas pengumuman masuk dan keluarnya bulan Ramadhan.” Dia juga berkata: “Berbagai insiden yang terjadi di teluk (Arab) semakin membongkar berbagai macam penyakit tersembunyi yang diidap oleh kaum muslimin ….. -hingga perkataannya- dan membongkar pula tentang tidak adanya referensi ilmiah (ulama) yang benar dan dapat dipercaya oleh kaum muslimin.” (Dinukil dari Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 98).

[3] Aidh Al-Qarni bersyair tentang para ulama Ahlussunnah yang tinggal di kota Riyadh, Saudi Arabia:
Shalat dan puasalah sekehendakmu,
Agama tidak mengenal “Aabid” hanya dengan sekedar shalat dan puasa.
Engkau hanyalah ahli ibadah dari kalangan pendeta,
Bukan dari umat Muhammad, cukuplah ini sebagai celaan.
hingga perkataannya:
Karya tulismu hanya untuk membicarakan orang-orang yang telah mati.
Tidak lain engkau orang yang sekarat dan banyak omong.
Karya tulismu hanya untuk membicarakan orang-orang yang telah mati,
Tidak lain engkau orang yang sekarat dan banyak omong,
Tiap hari kau syarah matan dengan madzhab taqlid, sungguh kau telah menambah noda-noda hitam Engkau pun nampak sibuk dengan masalah-masalah sampingan ketika engkau takut dengan seorang yang jahat lagi ganas.
Jangan berkata sepatah kata pun wahai Syaikh! Dan tunggulah usia fatwa orang sejenismu hanya 50 tahun saja.
(Dinukil dari kitab Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 99)

[4] Kitabnya yang satu ini, benar-benar dijadikan sebagai senjata ampuh oleh hizbiyyun harakiyyun untuk menjatuhkan ulama sunnah dan mengangkat tinggi-tinggi gembong-gembong harakah.

[5] Safar Hawali berkata: “Ulama kita wahai ikhwan!!! Semoga Allah menjaga mereka… Semoga Allah menjaga mereka!!! (sebagai ungkapan kekecewaan, pen), kita tidak bisa membenarkan segala sesuatu dari mereka, mereka tidak ma’shum (terjaga dari kesalahan)!!… Kita nyatakan: “Ya! Mereka kurang di dalam memahami waqi’ (fenomena kekinian), mereka punya sekian banyak kekurangan yang harus kita lengkapi!! Bukan kita lebih utama dari mereka, tetapi kita hidup dan bergelut dengan berbagai macam persoalan kekinian, sedangkan mereka menyikapi persoalan-persoalan tersebut dengan hukum yang tidak sesuai dengan zaman yang mereka hidup padanya!” -hingga perkataannya- “Dan sebagian dari ulama tersebut mulai menerima kritikan ini, karena mereka sudah jompo! atau telah memasuki fase ……!?” (Dinukil dari Madarikun Nazhar Fis Siyasah, hal. 351 footnote no.1)

[6] Muhammad Surur berkata tentang para ulama besar Ahlussunnah yang ada di Saudi Arabia: “Dan jenis lain adalah orang-orang yang berbuat tanpa ada rasa takut, yang selalu menyesuaikan sikap-sikapnya dengan sikap para tuannya… Ketika para tuan ini meminta bantuan (pasukan) dari Amerika (untuk menghadapi Saddam Husain sosialis, pen), dengan sigap para budak tersebut mempersiapkan dalil-dalil yang membolehkan perbuatan itu, dan ketika para tuan berseteru dengan Iran (yang berpaham sesat Syi’ah Rafidhah, pen) maka para budak itu pun selalu menyebut-nyebut kejahatan dan kesesatan Syi’ah Rafidhah …” (Majalah As-Sunnah, edisi 23, hal. 29-30).
Dia juga berkata tentang para ulama tersebut: “Perbudakan di masa lalu cukup sederhana, karena si budak hanya mempunyai tuan (secara langsung). Adapun hari ini, perbudakan cukup rumit, dan rasa heranku tak pernah sirna terhadap orang-orang yang berbicara tentang tauhid namun mereka budak budak budak budaknya budak, dan tuan terakhir mereka adalah seorang nashrani (yakni George Bush, pen).” (Majalah As-Sunnah, edisi. 26). (Lihat kitab Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 89).

[7] Muhammad Al-Mas’ari berkata tentang Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah: “Adapun pendapatku secara pribadi sesungguhnya Asy-Syaikh Ibn Baz telah sampai pada tingkat pikun, dungu serta lemah yang sangat.” Adapun pelecehannya terhadap shahabat Mu’awiyah: “Sesungguhnya aku menganggap Mu’awiyah sebagai seorang perampas kekuasaan.”
Sedangkan pelecehannya terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab : “Bahwasanya dia adalah seorang yang polos (biasa-biasa saja) dan bukan seorang yang ‘alim.” (Lihat kitab Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 115).

(Dikutip dari majalah Asy Syariah, Vol. I/No. 12/1425 H/2005, judul asli Melecehkan Ulama, Kebiasaan Yahudi dan Ahlul Kitab, karya Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi Al Atsari, Lc, url http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=226)
Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.
Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=868



Sampaikan ke teman,ortu,saudara
Biar jadi amal jariyah


23 Juni 2010

Kerinduanku..


Berkata Ibnu Qayyim:
" Adapun mereka yang merindukan ilmu,maka sungguh perhatian dan kerinduan mereka lebih besar dari setiap orang yang rindu kepada kekasihnya.
Dan kebanyakan mereka tidak disibukan oleh keelokan seseorang.
( raudhatul muhibbin )

“ INOVASI “Pemahaman Bid'ah Untuk Orang Awam

Assalammualaikum Warahmatullohi Wabarokatuh
Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri ‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa manyahdihillah falah mudhillalah Wa man yudhlil falaa haadiyalah wa-asy-hadu allaa ilaaha illallaahu wah-dahu laa syariikalah wa-asy-hadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.

Mari memahami Bid’ah dengan Logika
Kenapa saya memilih bahasan dengan logika ? alasannya adalah karena saya ingin memberikan pengetahuan “Dasar” kepada kaum muslimin, khususnya bagi yang baru saja belajar mendalami agama Islam terlebih tentang kaedah Bid’ah, Jika setelah membaca tulisan ini ikhwan/akhwat ingin mengetahui lebih dalam beserta Dalilnya Insya Allah kami bisa menyajikan dalam bentuk kajian yang lebih lengkap (e-book, audio MP3, video dan artikel pendukung lainnya)
Baiklah, saya tekankan bahwa kata “Bid’ah” itu jika Di “Indonesia” kan berarti INOVASI , untuk itu saya akan menyebut INOVASI dalam penjelasan2 di bawah ini (Supaya lebih familiar di telinga :D OK .. )

1. Apa itu INOVASI ?
INOVASI adalah hal baru, hal-hal yang sudah di beri penambahan dan pengurangan sehingga menjadi baru atau berubah dari kondisi sebelumnya

2. Apa yang mendasari INOVASI ini tercipta ?
Kecenderungan manusia yang selalu mengembangkan akal pikiran,ilmu pengetahuan dan rasa ketidakpuasan terhadap sesuatu yang sudah ada (Selalu merasa kurang)

3. Apa sebab INOVASI ini ada ?
Waktu yang menyebabkan INOVASI ini terus berkembang

4. Apakah INOVASI selalu baik buat manusia?
Tentu Tidak !! ada INOVASI yang baik dan bermanfaat buat sesama manusia ada juga yang INOVASI yang berakibat buruk buat manusia

5. Contoh INOVASI yang baik buat manusia ?

• Kereta kuda menjadi Mobil
• Telegram menjadi SMS
Surat menjadi E-Mail
• Mesin Ketik menjadi Laptop
• Kurir Pesan menjadi Gelombang Radio/Signal Telephone
• Bedah pisau menjadi bedah laser
• Dan masih buaanyaaaaaak lagi hampir semua teknologi dan fasilitas yang kita pake saat ini merupakan hasil dari INOVASI dari jaman sebelumnya

6. Contoh INOVASI yang berakibat buruk buat manusia ?

• Robot yang gagal product
• Kawin silang manusia dengan hewan
• Produk yang menyebarkan radiasi
• Mesin yang menimbulkan pencemaran (polusi)
• Peralatan yang mudah meledak tanpa pengamanan khusus
• Pencampuran melamin dalam susu
• Penggunaanbahan kimia dalam jamu
• Penggunaan narkotik untuk konsumsi harian
• Dan masih banyak lagi contohnya

7. INOVASI diatas bisa dalam kehidupan sehari-hari , banyak contoh barangnya, adakah INOVASI dalam agama ?
Ada !

8. INOVASI apa contohnya ?
INOVASI dalam beribadah kepada Tuhannya

9. Ibadah kok ber-INOVASI ? apa boleh ?
Dalam Islam TIDAK BOLEH ! tapi agama lain mungkin DIBIARKAN..

10. Contoh INOVASI yang di biarkan oleh agama lain ?
Kitab injil yang keluar dengan beberapa versi pembaharuan (INOVASI )

11. INOVASI beribadah dalam islam yang dilarang ?
Semuanya dilarang dong …

• Cara sholat yang tidak sesuai ajaran rasulullah
• Cara puasa yang tidak sesuai ajaran rasulullah
• Cara berdoa yang tidak sesuai ajaran rasulullah
• Cara berdzikir yang tidak sesuai ajaran rasulullah
• Cara berwudhu yang tidak sesuai ajaran rasulullah
• Cara adzan yang tidak sesuai ajaran rasulullah
• Dan semua bentuk ibadah kepada Allah yang tidak sesuai ajaran rasulullah

12. INOVASI untuk ibadah kok dilarang ? kalo lebih baik kenapa tidak ?
Islam sudah sempurna bro !! kenapa ada penambahan dan pengurangan kalo Allah sendiri sudah bilang SEMPURNA !!

13. Nah itu .. Mobil,Laptop dan fasilitas INOVASI lain kok boleh di lakukan ?

Itu bukan INOVASI beribadah bro .. tapi INOVASI pada kebutuhan dunia

14. Bukankah mobil untuk ke masjid, pesawat terbang untuk pergi Haji adalah bentuk ibadah ? Berarti mobil, pesawat dan lainnya juga bisa saja termasuk INOVASI dalam hal ibadah dong ?

Itukan tujuan selanjutnya , bukan tujuan utamanya ..

15. Maksud bukan tujuan utamanya ?

• Mobil,pesawat,kereta api,kapal pesiar dibuat sebagai bentuk INOVASI dengan tujuan asal adalah INOVASI dalam bentuk transportasi baik darat,laut atau udara
• Begitu Juga dengan speaker,gelombang radio,telephone dibuat sebagai bentuk INOVASI dengan tujuan asal INOVASI untuk komunikasi baik yang berupa pengeras suara maupun komunikasi jarak jauh
• Contoh lain dakwah melalui Internet, tujuan utama dari INTERNET adalah bentuk INOVASI dalam hal teknologi informatika dan elektronika

16. Berarti untuk membedakan apakah INOVASI itu bentuk ibadah atau bukan musti dilihat tujuannya dulu ya ?

Yup .. benar

17. Nah kalo Al-Quran yang disusun menjadi kitab, itu INOVASI dalam bentuk apa ?

Menyusun Al-Quran bukan INOVASI bro .. tapi udah dari jaman rasululah

18. Ah masak sih ? buktinya ?

Iya .. pengumpulan dan penyusunannya melalu hafalan (disimpan di ingatan dan hati) para sahabat, di tulis diatas daun, kulit , tulang dan sejenisnya

19. Tapi kok sekarang Al-Quran jadi buku (kitab) yang sangat menarik dan mudah dibaca ?
bukankah ini juga termasuk INOVASI yang baik ? karena memudahkan buat kita di jaman ini ..dan membaca Al-Quran ini adalah ibadah apakah ini juga dilarang karena termasuk INOVASI dalam ibadah ?

INOVASI nya kan dari media cetaknya bro .. dari daun menjadi kertas, dari di ikat (disatukan) menjadi di jilid, so ini INOVASI di media cetak, dan sekarang juga ada INOVASI dari media cetak menjadi media digital dengan tujuan untuk memudahkan apa yang akan di lihat,dibaca pada media cetak atau media digital itu

20. INOVASI pembuatan Al-Quran itu ada di medianya ya .. bukan INOVASI di cara membacanya Al-Qurannya ?

Betuk sekali , kalo ada orang yang membaca Al-Quran dengan selalu menambahkan ayat atau menambahkan bacaan lain itu baru namanya INOVASI dalam beribadah

21. Emang ada INOVASI dalam membaca Al-Quran ?

Ada .. Contohnya :
• Aliran (sekte) yang sholat membaca ayat Al-Quran kemudian di tambah dengan terjemahannya dalam sholatnya
• Setelah selesai membaca Ayat selalu di akhiri dengan bacaan sodaqollahul adziim

22. Berarti kesimpulannya INOVASI itu ada 2 pengelompokkan pokok ya ?

Betul .. yaitu :
• INOVASI dalam segi bahasa yang berarti penemuan baru, hal baru , perkara baru yang tidak menjadi dasar pokok untuk beribadah kepada Allah
• INOVASI dalam beribadah kepada Allah

23. Terus kalo INOVASI dalam segi bahasa terbgai juga kan ?

Ya .. yaitu :
1) INOVASI yang baik, terpuji, dan bermanfaat
2) INOVASI yang buruk,tercela dan merugikan
3) Mungkin ada juga INOVASI yang di tengah2 , tidak baik dan juga tidak buruk

24. Kalo INOVASI dalam beribadah ada pembagiannya juga gak ?

Gak Ada !! karena INOVASI dalam beribadah semuanya dilarang ! dosa ! ancamannya neraka bro ..

25. Kalo masih ada yang bingung ? ragu ? dan berselisih ? gimana dong ?

Gampang .. kalo ada dalil dari Al-Quran dan AsSunnah berarti jalanin, kalo gak ada berarti termasuk INOVASI dalam beribadah yang musti kita tinggalkan

26. Kalo ada yang berdalil, Ulama ini bilang baik, Imam ini bilang boleh, Wali ini bilang sunnah gimana dong ?

Gampang .. Kalo rasulullah dan 3 generasi sahabat tidak pernah mengajarkan dan mengamalkan berarti tinggalkan !!

27. Kalo ada yang berdalih.. tapi Sahabat bilang boleh, sahabat bilang baik gimana dong ? dia kan juga 3 generasi sahabat.. umat terbaik ?

Kalo dibenarkan rasulullah berarti dilakukan dong .. tapi kalo bertentangan dengan rasulullah tinggalkan .. tinggian mana keislaman dan keimanan antara rasulullah dengan sahabat .. hayo ??!!

28. Walaupun banyak yang melakukan, bahkan sebagian besar melakukan amalan itu karena dianggap baik menurut Imam,Ulama dan Wali ? masak kita gak boleh ikut ikutan yang baik to ?

Baik menurut siapa bro ??!! Apakah mungkin rasulullah menyembunyikan amalan baik yang bisa mendatangkan ridho Alloh ? Kalo itu baik menurut Rasulullah, pasti sudah diajarkan dan diamalkan oleh para sahabat dan 3 generasi terbaik dong ..

29. Trus apa bedanya amalan baik yang belum di contohkan rasulullah dan para sahabat dengan INOVASI dalam beribadah ?

Gak Ada Bedanya !! amal baik kan merupakan ibadah .. kalo dulu (3 generasi terbaik) belum ada terus sekarang jadi ada berarti kan INOVASI amalan .. alias INOVASI dalam beribadah

30. Kenapa banyak orang selalu di ributkan dengan INOVASI beribadah ini ya ? bahkan sampe ada yang jotos jotosan .. :D ?

Ya soalnya orang yang ber INOVASI dalam ibadah menganggap dirinya bertambah lebih baik .. padahal yang bener2 baik adalah yang sudah mengambil KESEMPURNAAN dalam islam .. bukan malah MENYEMPURNAKAN ..!! emang kita tu siapa2 ?? berani beraninya MENYEMPURNAKAN (menambah nambahi) amalan lain di dalam Agama yang telah sempurna ..

31. Trus kalo kita timbul perselisihan gimana ? kita menganggap itu INOVASI , sebagian yang lain menganggap Amalan yang baik .. gimana ??

Bersabar, berikan penjelasan pelan pelan, kembalikan kepada Al-Quran dan As Sunnah dan bertawakal pada Allah

32. Kalo mereka memaksa kita untuk mengikuti INOVASI ibadah mereka gimana ?

Ya silahkan aja ikut .. kalo kamu gak takut pada neraka dan adzab Allah.. :P

33. Trus mungkin gak mereka yang suka ber INOVASI dalam agama itu bisa sadar akan hal ini ?

Hanya Allah yang mengetahui kebenarannya, karena sesungguhnya INOVASI dalam ibadah ini lebih disukai syetan daripada perbuatan maksiat

34. Lha kok bisa setan lebih suka INOVASI dalam ibadah dari maksiat ?

Orang bermaksiat tahu kalo maksiat itu jelek jadi kemungkinan untuk menjauh dari kejelekan dan bertobat banyak .. tapi orang ber INOVASI dalam ibadah ini menganggap inilah yang LEBIH BAIK .. jadi bagaimana mungkin orang yang SUDAH beranggapan yang dilakukannya itu baik tapi suruh bertobat dari kebaikannya (yang dia anggap baik) itu

35. Berarti bahaya banget ya INOVASI dalam ibadah ini ?

Betul bro .. inilah justru yang menyebabkan Perselisihan , perpecahan sesama muslim

36. Sebab perselisihan muslim ? Apa maksudnya ?

Iya .. coba kalo semua dikembalikan pada Al-Quran dan As Sunnah, pasti ketemunya satu titik yaitu Islam yang benar !! tapi karena ada dan banyak yang ber INOVASI dalam beribadah akhirnya umat islam jadi terpecah belah, ada yang ikut INOVASI nya ulama A, ada yang ikut INOVASI nya ulama B dan seterusnya ..

37. Kalo semua kembali pada Al-Quran dan As Sunnah tapi masih saja ada INOVASI dalam ibadah gimana dong ?

Berarti cara di memahami islam tidak sama dengan pemahaman pendahulu kita yang sholeh

38. Pendahulu kita yang sholeh itu siapa ?

Dia adalah Salafush Sholeh yaitu 3 generasi terbaik setelah jaman rasulullah

39. Berarti selain dikembalikan pada Quran-sunnah cara memahaminya gak boleh sembarangan ya ?

Iya dong .. Agamanya Islam, landasan utamanya Quran-Sunnah , jalan-cara memahami dan mempelajarinya musti sesuai dengan orang2 yang paling sholeh menurut rasulullah yaitu 3 generasi sahabat

40. Itukan generasi jaman dahulu ? kalo sekarang siapa ?

Mereka adalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

41. OK deh .. trus kesimpulannya berarti ?

• Perbanyak belajar ilmu Syar’i
• Pahami Islam dengan pemahaman Salafush Sholeh
• Ikuti petunjuk Al-Quran dan As Sunnah
• Jauhi INOVASI dalam beribadah
• Kalo terjadi hal yang membingungkan tinggalin dulu sampe tahu benar apakah sudah sesuai dengan ajaran Rasulullah ato malah gak ada ajaran dan tuntunannya sama sekali, kalo ada tuntunan dari Rasulullah jalanin, kalo gak tinggalin

Yah .. semoga dengan pengetahuan saya yang minim tapi udah berusah maksimal untuk menjelaskan INOVASI dengan bahasa sehari hari, dapat memberikan kebaikan buat pembaca sekalian

“Subhanakallahumma wabihamdika Asyhadu anlaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaihi”

Wassalammualaykum Warahmatullohi Wabarokatuh.

Artikel Terkait:
1. Tawassul
2. Hakikat Tashawwuf


Sampaikan ke teman,ortu,saudara
Biar jadi amal jariyah


21 Juni 2010

Silsilah Ulama Ahlus Sunnah

Silsilah Ulama Ahlus Sunnah

Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم bersabda

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ


“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” [HR.Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani]

Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم bersabda

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِباَدِ، وَلَكِنْ بِقَبْضِ الْعُلَماَءِ. حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عاَلِماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْساً جُهَّالاً فَسُأِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” [HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673]

Sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang banyak meriwayatkan Hadist :

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu (5374 Hadits)
Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu (2630 Hadits)
Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu (2286 Hadits)
Umu’l Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha (2210 Hadits)
Abdullah Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu (1660 Hadits)
Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu (1540 Hadits)
Abu Sa’id Al Khudry radhiallahu ‘anhu (1170 Hadits)

Sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang banyak berfatwa :

Abdullah Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu
Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu
Umu’l Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha
Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu
Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu
Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu

Tabi’in (Generasi setelah Sahabat) :

Ka`ab bin Mati` ............................. (wafat 32 H) (652 M)
Alqamah ........................................ (wafat 62 H) (681 M)
Masyruq bin al Ajda'....................... (wafat 63 H) (682 M)
Muhammad Ibnul Hanafiyyah...... (wafat 80 H) (700 M)
Muh. bin al Hanafiyah bin Ali Abi Thalib..(wafat 81 H) (701 M)
Sa’id bin Musayyab…………..…....... (wafat 90 H) (709 M)
Urwah bin Zubair…………..……....... (wafat 94 H) (713 M)
Ali bin Husain Zainal Abidin…....... (wafat 93 H) (712 M)
Sa’id bin Jubair ...............................(wafat 95 H) (715 M)
Ibrahim an-Nakha’iy ...................... (wafat 96 H) (716 M)
Zaid bin Wahab ............................. (wafat 96 H) (714 M)
Abdullah bin Muhairaz/Ibnu Janadah...(wafat 99 H) (718 M)
Umar bin Abdul Aziz…………..... (wafat 101 H) (720 M)
Atha' bin Yasar .............................. (wafat 103 H) (722 M)
Asy Sya’by .................................... (wafat 104 H) (722 M)
Mujahid ibn Jabr............................(wafat 104 H) (722 M)
Ikrimah .......................................... (wafat 105 H) (724 M)
Ubaidillah bin Abdullah bin Umar... (wafat 106 H) (725 M)
Salim bin Abdullah bin Umar .......... (wafat 106 H) (725 M)
Thawus bin Kisan al Yamani .............(wafat 106 H) (725 M)
Al Qasim bin Muh. bin abu bakar Ash Shiddiq (wafat 106 H) (725 M)
Sulaiman bin Yasar al Madani ......... (wafat 107 H) (726 M)
Al Hasan Al Bashri………..…....… (wafat 110 H) (729 M)
Muh. bin Sirrin………................ (wafat 110 H) (729 M)
Raja` bin Haiwah ......................... (wafat 112 H) (731 M)
Thalhah bin Musharaf..................... (wafat 112 H) (731 M)
Atha' bin Rabah ................................ (wafat 114 H) (732 M)
Abu JA`far Al-Baqir ....................... (wafat 114 H) (733 M)
Abu Bakar bin Amr bin Hazm........... (wafat 117 H) (735 M)
Maimun bin Mahran ........................ (wafat 117 H) (736 M)
Ibnu Abi Malikah .......................... (wafat 117 H) (736 M)
Ubadah bin Nusay al Kindi ............... (wafat 118 H) (737 M)
Nafi’ bin Hurmuz .............................. (wafat 117 H) (735 M)
Qotadah As Sudusy …………............ (wafat 118 H) (736 M)
Muh bin Syihab Az Zuhri……............ (wafat 125 H) (743 M)
Amr bin Dinar ................................ (wafat 126 H) (744 M)
Abdul Karim bin Malik al Harrani..... (wafat 127 H) (745 M)
Abu Mashar Abdul A`la ad Damsyiqi...(wafat 128 H) (746 M)
Yahya bin Abi Katsir al Yamani......... (wafat 129 H) (747 M)
Ayyub as-Sikhtiyani ....................... .(wafat 131 H) (748 M)
Muh. bin Al-Munkadir ..................... (wafat 131 H) (748 M)
Abdullah bin Thawus Al-Yamani ...... (wafat 132 H) (750 M)
Umar bin Dzar Al-Murhabi ..............(wafat 135 H) (752 M)
Zaid bin Aslam Al Madani ............... (wafat 136 H) (754 M)
Rabi`ah Ar Ra-i.............................. (wafat 136 H) (754 M)
Sulaiman At-Taimy ........................ .(wafat 143 H) (760 M)
Ja`far bin Muhammad Ash-Shadiq .....(wafat 143 H) (761 M)
Abdullah bin Syaudzab Al Khurrasani..(wafat 144 H) (762 M)
Az Zubaidi .................................... (wafat 148 H) (766 M)
Ibnu Juraij....................................... (wafat 150 H) (768 M)
Abu Hanifah An Nu’man ….... (wafat 150 H) (767 M)...Hanafi
Abdurrahman bin Yazid bin Jabir......(wafat 153 H) (770 M)
Ma'mar bin Rosyid ......................... (wafat 154 H) (770 M)
Syu’bah ibnu A-Hajjaj ......................(wafat 160 H) (777 M)
Abdul Aziz bin Salman Al Majisyun ...(wafat 164 H) (781 M)
Sa`id bin Abdul Aziz At Tanwikhi...... (wafat 167 H) (784 M)

Tabi’ut tabi’in (Generasi setelah Tabi’in), tokoh-tokoh mereka adalah :

Muh. bin Muslim Ath Thaifi........... (wafat 177 H) (794 M)
Malik bin Annas ……….….... (wafat 179 H) (796 M)...Maliki
Nafi` bin Umar al Jamhi al Makki... (wafat 179 H) (796 M)
Al-Qadhi Abu Yusuf ................... (wafat 182 H) (798 M)
Abu Ishaq al Fazari ..................... (wafat 185 H) (802 M)
Fudhail bin 'Iyadh ................. (wafat 187 H) (803 M)
Al Auza’i………...…………..………. (wafat 198 H) (814 M)
Sufyan Ats Tsauri…………….. (wafat 161 H) (778 M)
Asy Syaibani ............................ (wafat 189 H) (804 M)
Yahya bin Salim Ath Thaifi......... (wafat 195 H) (811 M)
Sufyan bin Uyainah…………… (wafat 198 H) (814 M)
Ismail bin Ulayyah……………… (wafat 198 H) (814 M)
Abdurrahman bin Mahdi ............. (wafat 198 H) (814 M)
Al Laits bin Sa’ad…………...…… (wafat 175 H) (792 M)

Generasi setelah Tabi’ut tabi’in , diantaranya :

Abdullah ibnu Al Mubarak….. (wafat 181 H) (798 M)
Waqi’ bin Jarrah……….….....……… (wafat 197 H) (813 M)
Abdurrahman bin Mahdi……….... (wafat 198 H) (814 M)
Yahya bin Said Al Qattan……...... (wafat 198 H) (814 M)
Ath Thoyalisi ................................ (wafat 204 H) (820 M)
Muh. bin Idris Asy Syafi’i … (wafat 204 H) (820 M)...Syafi’i
'Abdurrazaq bin Hammam .......... (wafat 211 H) (827 M)
Abdul Mulk bin Abdul Aziz ...........(wafat 212 H) (828 M)
Addullah bin Yazid al Maqri al Makki.(wafat 213 H) (829 M)
Abdullah bin Zubair al Humaidi al Makki .(wafat 219 H) (835 M)
Al Humaidi .................................. (wafat 219 H) (835 M)
Affan bin Muslim…………....…….. (wafat 219 H) (834 M), dan lain-lain.

Kemudian mereka yang menjalani manhaj mereka, diantaranya :

Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam......... (wafat 220H) (835 M)
Isma`il bin Abi Uwais al Madini ......... (wafat 226 H) (841 M)
Ahmad bin Yunus ............................. (wafat 227 H) (841 M)
Sa'd bin Mani' al Hasyimi ....................(wafat 230 H) (845 M)
Yahya bin Ma’in…………….......…..…... (wafat 233 H) (848 M)
Ali Ibnul Madini……………….......….... (wafat 234 H) (849 M)
Ibnu Abi Syaibah ……………...........… (wafat 235 H) (850 M)
Ibnu Qutaibah ................................ (Wafat 236 H) (850 M)
Ibnu Rahawaih ................................ (wafat 238 H) (852 M)
Muh. bin Sulaiman al Mashishi.......... (wafat 240 H) (855 M)
Ahmad bin Hambal ……......…. (wafat 241 H) (856 M)... Hambali

Kemudian murid-murid mereka seperti :

Muh.bin Aslam Ath-Thusi ........... (wafat 242 H) (856 M)
Ad Darimy…………………......……. (wafat 255 H) (869 M)
Al Bukhari ۩………………...…… (wafat 256 H) (870 M)
Ahmad bin Sinaan Al-Qaththaan ...(wafat 258 H) (871 M)
Muslim ۩................................ (wafat 261 H) (875 M)
Al-Muzanniy ............................... (wafat 264 H) (878 M)
Abu Zur’ah………………...…....… (wafat 264 H) (878 M)
Abu Dawud ۩……………...... (wafat 275 H) (889 M)
Abu Hatim Ar Razy….…….... (wafat 277 H) (890 M)
At Tirmidzi ۩…………..………… (wafat 279 H) (892 M)
Abu Bakar bin Ani Khaitsamah.... (wafat 279 H) (892 M)
Abu Ishaq al Harbi..................... (wafat 285 H) (899 M)
Abu Bakr 'Amr bin Abi 'Ashim ... (wafat 287 H) (900 M)
Ats Tsa'labi ................................ (wafat 291 H) (903 M)
Al Bazzar.................................... (wafat 292 H) (905 M)
Abu Mush`ab bin Abi Bakar Az-Zuhri ..(wafat 292 H) (905 M)
Al Qasim as Sarqisthi.............. (wafat 302 H) (915 M)
An Nasa’i ۩………………….....… (wafat 303 H) (915 M)
Ibnu Hibban Al Busty………...... (wafat 304 H) (917 M)
Abu Nashr bin Sallam Al-Faaqih .. (wafat 305 H) (917 M)
Ibnul Jarud .............................. (wafat 307 H) (920 M)
Abu Ya'la al Mushili .....................(wafat 307 H) (920 M)
Ar Ruyani ...................................(wafat 307 H) (920 M), dan lain-lain

Orang-orang generasi berikutnya yg berjalan pada manhaj mereka :

Ibnu Jarir At Thabari………....... (wafat 310 H) (922 M)
Ibnul Khuzaimah…………........… (wafat 311 H) (923 M)
Al-Khallal ....................................... (wafat 311 H) (923 M)
As Siraj Abul Abbas ....................... (wafat 313 H) (926 M)
'Abu Awanah ............................... (wafat 316 H) (929 M)
Ibnu Abi Dawud .......................... (wafat 316 H) (929 M)
Al Asfarayini .................................. (wafat 316 H) (928 M)
Abu Bisyr Ad Daulaby .................... (wafat 320 H) (932 M)
Ath Thahawy........................ (wafat 321 H) (933 M)
Al 'Uqaili .................................... (wafat 322 H) (934 M)
Abu Ja'far al Buthuri ar Razzaz..........(wafat 329 H) (941 M)
Muhammad Ibnu Sa’ad .................... (wafat 330 H) (941 M)
Abul Hasan al Asy 'ary.......... (wafat 330 H) (941 M)
Al Barbahary ........................... (wafat 329 H) (940 M)
Ibnu Majah ۩……………..…...... (wafat 333 H) (944 M)
Ibrahim bin Syaiban ..................... (wafat 337 H) (948 M)
At Thabarany………….…............. (wafat 360 H) (970 M)
Al Ajurry ..................................... (wafat 360 H) (970 M)
Ibnul Hamman Al-Hanafi ................ (wafat 361 H) (971 M)
Bid'ah Maulid Nabi pertama diadakan di Mesir (oleh Mu'iz Lidinillah dari Daulah Fatimiyah, 362 H)
As-Sajastani..................................... (wafat 363 H) (973 M)
Ibnu As Sunni……………....…........... (wafat 364 H) (974 M)
Ibnu 'Adi..................................... (wafat 365 H) (976 M)
Abus Syaikh Ibni Hayyan............... (wafat 369 H) (980 M)
Abu ‘Abdillah Muhammad bin Khafif ..(wafat 371 H) (981 M)
Ad Daruquthni……………...…….... (wafat 385 H) (995 M)
Abu Hafs Ibn Syahin ......................... (wafat 385 H) (995 M)
Ibnu Baththah al Ukbari ............ (wafat 387 H) (997 M)
Al Khaththabi................................. (wafat 388 H) (998 M)
Ibnu Khuwaiz Mindad al-Maliki ........ (wafat 390 H) (999 M)

Tahun 1000 M

Al Mukhallash ............................... (wafat 393 H) (1003 M)
Al-Marwazi .................................... (wafat 394 H) (1003 M)
Ibnu Mandah ............................. (wafat 395 H) (1005 M)
Ibnu Abu Zamanain ........................ (wafat 399 H) (1009 M)
Al-Baqillani .................................... (wafat 403 H) (1012 M)
Al Hakim………………......…....……… (wafat 405 H) (1014 M)
Tamam ar Razi ............................... (wafat 414 H) (1024 M)
Al Laalika-iy .............................. (wafat 418 H) (1027 M)
Ar Raghib al Ashfahany ............ (wafat 425 H) (1033 M)
As Sahmi al Jurjani....................... (wafat 427 H) (1036 M)
Al-Baghdadi ................................ (wafat 429 H) (1037 M)
Abu Nu'aim ................................. (wafat 430 H) (1039 M)
Abu Bisyran................................. (wafat 430 H) (1039 M)
Utsman bin sa'id............................ (wafat 444 H) (1053 M)
Ash Shabuni .................................. (wafat 449 H) (1057 M)
Al Qudaa-i .................................... (wafat 454 H) (1062 M)
Abu Muhammad bin Hazm…........ (wafat 456 H) (1064 M)
Abul Fadhl al-Maqri’...................... (wafat 454 H) (1062 M)
Al Baihaqy…………...….......…………. (wafat 458 H) (1066 M)
Abul Qasim As-Sialari .................. (wafat 460 H) (1067 M)
Ibnul Abdil Barr………….....……… (wafat 463 H) (1071 M)
Al Khatib Al Baghdady………......... (wafat 463 H) (1071 M)
Al Baji.......................................... (wafat 477 H)(1085 M)
Al Harawi .................................... (wafat 481 H) (1089 M)
Abul Muzhaffar as-Sam’ani ........... (wafat 489 H) (1096 M)
Abu Hamid Al Ghazali ............... (wafat 505 H) (1111 M)
Ad Dailamy ................................. (wafat 509 H) (1115 M)
Al Baghawi ................................. (wafat 516 H) (1122 M)
Ath Thurtusi ............................... (wafat 530 H) (1136 M)
Abul Hasan al-Kurajiy asy-Syafi’i .... (wafat 532 H) (1137 M)
Ibnul Arabi (bukan Ibnu Arabi sang sufi). (wafat 543 H) (1149 M)
Al Qadhi 'Iyadh ........................ (wafat 544 H) (1150 M)
Asy Syahrasytany ....................... (wafat 548 H) (1153 M)
Abdul Qadir Jailani…………....... (wafat 561 H) (1166 M)
Ibnu ‘Asakir………………..........…... (wafat 571 H) (1176 M)
'Abdul Haq al Isybili....................... (wafat 581 H) (1186 M)
Al-Haazimi ................................... (wafat 584 H) (1189 M)
Salahudin al-Ayyubi ...................... (wafat 589H) (1194 M)
Ali bin Abi Bakar Al-Marghinani.... (wafat 593 H) (1196 M)
Ibnul Jauzi ..................................... (wafat 597 H) (1201 M)
'Abdul Ghani al Maqdisy................. (wafat 600 H) (1204 M)
Ibnu Al Atsir………………................. (wafat 606 H) (1210 M)
Abu Hafsh al Mu-addib..................... (wafat 607 H) (1211 M)
Ibnul Qudamah……....……...…..……. (wafat 620 H) (1223 M)
Asy Sayzhuri .................................. (wafat 642 H) (1244 M)
Adh Dhiya' al Maqdisy...................... (wafat 643 H) (1246 M)
Ash Shaghani.................................. (wafat 650H) (1252 M)
Al Mundziri……………...….......…… (wafat 656 H) (1258 M)
Al Izz bin Abdussalam ................ (wafat 660 H) (1261 M)
Abu Syammah Asy Syafi'i ............ (wafat 665 H) (1266 M)
Al Qurthuby............................... (wafat 671 H) (1273 M)
An Nawawy…………..…….....….... (wafat 676 H) (1277 M)
Abi Hamzah Al-Azdi Al-Andalusi .... (wafat 695 H) (1295 M)
Ibnu Daqiq Al-led ……...……..…..… (wafat 702 H) (1303 M)
Ibnul Manzhur .............................. (wafat 711 H) (1312 M)
Syamsyuddin Ubaidillah Ad Dimasyqi..(wafat 727 H) (1326 M)
Ibnu Taimiyyah………………...... (wafat 728 H) (1327 M)
Ibn Sayyid ..................................... (wafat 734 H) (1333 M)
Al Khatib at Tibrizy...................... (wafat 737 H) (1336 M)
Al-Mizzi……………...………..…………. (wafat 742 H) (1342 M)
Ibnu As Shalah………...…..…..…..… (wafat 743 H) (1342 M)
Ibnu Abdul Hadi ........................... (wafat 744 H) (1343 M)
Adz Dzahaby…………...........…… (wafat 748 H) (1347 M)
Ibnul Qoyyim Al Jauziah…….... (wafat 751 H) (1350 M)
As Subki……………..…........………... (wafat 756 H) (1355 M)
Az Zaila'i.................................... (wafat 762 H) (1361 M)
Syamsuddin Ibnu Muflih .............. (wafat 763 H) (1361 M)
Ibnu Katsir………………....…..…… (wafat 774 H) (1372 M)
Asy Syatiby ............................... (wafat 790 H) (1388 M)
At-Taftazani ................................ (wafat 791 H) (1361 M)
Ibnu Abil ‘Izz .............................. (wafat 792 H) (1389 M)
Ibnu Rajab Al Hambali ……….. (wafat 795 H) (1393 M)
Ibnul Mulaqqan ......................... (wafat 804 H) (1402 M)
Al-Balqini .................................. (wafat 805 H) (1403 M)
Al Iraqi…………….........………… (wafat 806 H) (1404 M)
Al Haitsamy........................ (wafat 807 H) (1404 M)
Zainuddin Al-Maraghi.................. (wafat 810 H) (1407 M)
Fairuz Abadi .............................. (Wafat 817 H) (1415 M)
Badruddin al-’Aini ....................... (wafat 841 H) (1437 M)
Ibnu Hajar Al ‘Asqalany............ (wafat 852 H) (1448 M)
Ibnul Hammam .......................... (wafat 869 H) (1465 M)
Sakhawi ..................................... (wafat 902 H) (1497 M)
Ibnu 'Abdil Hadi .......................... (wafat 909 H) (1504 M)
Jalaluddin As Suyuthi………...… (wafat 911 H) (1505 M)
As-Samhudi .................................. (wafat 911 H) (1505 M)
Abul Hasan 'Araaq al-Kinani .......... (wafat 963 H) (1555 M)
Al-Hijawi....................................... (wafat 967 H) (1559 M)
Ibnu Janim al Mishri....................... (wafat 970 H) (1563 M)
Asy Sya'rani ................................. (wafat 973 H) (1566 M)
Al Haitami..................................... (wafat 973 H) (1566 M)
Ali bin Hisamuddin Al-Hindi ........... (wafat 975 H) (1567 M)
Ali Muttaqi .................................. (wafat 975 H) (1568 M)
Asy-Syarbini ................................ (wafat 977 H) (1569 M)
Nuruddin Al-Harawi ..................... (wafat 1014 H) (1605 M)
'Ali al Qari..................................... (wafat 1014 H) (1606 M)
Al Munawi...................................... (wafat 1031 H) (1622 M)
Mar'i Al-Karami Al-Muqaddasi ........ (wafat 1033 H) (1623 M)
Muh. Ibnu Sulaiman ....................... (wafat 1094 H) (1682 M)
Muh. Hayat As-Sindi ...................... (wafat 1163 H) (1749 M)
Ad Dahlawi..................................... (wafat 1176 H) (1763 M)
Ash Shan’ani………....…...………… (wafat 1182 H) (1768 M)
As-Safariniy .................................... (wafat 1188 H) (1774 M)
Ahmad Ad-Darudir ........................ (wafat 1201 H) (1786 M)
Ibnu Abidin ..................................... (wafat 1203 H) (1789 M)
Az-Zubaidi ................................... (wafat 1205 H) (1791 M)
Muh. bin Abdul Wahhab…..….. (wafat 1206 H) (1791 M)
Al Filani ........................................ (wafat 1218 H) (1804 M)
Az Zarqani.................................... (wafat 1220 H) (1806 M)
Ad-Dasuqi .................................... (wafat 1230 H) (1814 M)
As Syaukany………....…...……… (wafat 1250 H) (1834 M)
Abdu Al Hayyi Al Laknawi…....… (wafat 1304 H) (1887 M)
Muh. Shiddiq Hasan Khan............ (wafat 1307 H) (1890 M)

Abad 20 (Thn 1900)

Muh. Jamaluddin Al Qasimi ad Dimasyqi ...(wafat 1332 H) (1913 M)
Abdullah bin Ja’far Al Kattany................ (wafat 1345 H) (1927 M)
Syamsul Haq Al-Azhim ............................. (wafat 1349 H) (1930 M)
Anwar Syah al-Kasymiri al-Hindi ............ (wafat 1352 H) (1933 M)
Badrudin Al-Hasani ................................. (wafat 1354 H) (1935 M)
Muh. Rasyid Ridha ………...…................ (wafat 1354 H) (1935 M)
Abdurrahman bin Nashir As Sa’di..... (wafat 1367 H) (1947 M)
Ahmad Syakir......................................... (wafat 1377 H) (1957 M)
Al-Mu'allimi Al-Yamani ............................ (wafat 1386 H) (1966 M)
Muh. bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh .......... (wafat 1389 H) (1969 M)
Muh. Amin Asy-Syinqithi .................. (wafat 1393 H) (1973 M)
Ihsan Ilahi Zhahir ................................... (wafat 1407 H) (1986 M)
Hamud At-Tuwaijiri ............................... (wafat 1413 H) (1992 M)
Badi'uddin As-Sindi ................................ (wafat 1416 H) (1995 M)
Muhammad Al-Jami .............................. (wafat 1416 H) (1995 M)
Hammad Al-Anshari ............................. (wafat 1418 H) (1997 M)
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz………(wafat 1999 M)
Muh. bin Shaleh Al Utsaimin………..… (wafat 1999 M)
Muh. Nashiruddin Al Albani………..… (wafat 1999 M)

Abad 21 (Thn 2000)

Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i….............…... (wafat 2001 M)
Abdul Qadir al-Arnauut ............................. (wafat 2004 M)
Al-Mubarakfuri ......................................... (wafat 2006 M)
Bakar Abu Zaid ...................................... (wafat 2009 M)
Abdullah bin ‘Abdirrahman al Jibrin...... (wafat 2009 M)
Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidhahullah
Abdul Muhsin Al-Abbad hafidhahullah
Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafidhahullah
Salim ‘Ied Al Hilaly hafidhahullah
Ali Hasan Al Halabi hafidhahullah
Yahya al Hajury hafidhahullah
Masyhur Hasan Salman hafidhahullah
Nashir bin Abdul Karim Al-'Aql hafidhahullah
Abu Ishaq al-Huwainiy hafidhahullah
Muh. bin Musa Alu Nashr hafidhahullah
Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily hafidhahullah
Muh. bin Abdirrahman Al-Khumais hafidhahullah
Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr hafidhahullah
________________________________________

Data updated : Senin, 21Juni 2010, jam 15:55


Catatan :
Artikel ini adalah hasil dari pencarian dan pengumpulan data selama kurang lebih 4 tahun.
Data dalam artikel ini masih akan terus di update.
Mohon di koreksi jika ada :
- kesalahan data, baik berupa tahun wafat maupun nama,
- nama-nama yang seharusnya tidak dicantumkan, namun ternyata tercantumkan
- juga jika ada usulan penambahan nama. Tafadhdhol..


Rujukan :
- Maraji' "Mulia dengan Manhaj Salaf", Yazid bin Abdul Qadir Jawa, Pustaka At Taqwa
- Maraji "Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah", Yazid bin Abdul Qadir Jawa, Pustaka Imam Syafi'i
- Maraji' "Sifat Shalat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam", Syaikh Albany, Pustaka Ibnu Katsir
- "60 Biografi Ulama Salaf", Syaikh Ahmad Farid, Pustaka Al Kautsar
- "Mukhtashar Ilmu Musthalahul Hadits", Drs. Fatchur Rahman, PT. Al Ma'arif.
- "Pengantar Ilmu Musthalahul Hadits", Abdul Hakim bin Amir Abdat, Darul Qalam.
- Al Bida' Al Hauliyyah, "Ritual Bid'ah dalam setahun", Abdullah bin Abdul Aziz At Tuwaijiry, Darul Falah.
- www.almanhaj.or.id
- www.darussalaf.or.id
- www.salafy.or.id
- www.ahlulhadiits.wordpress.com
- www.salafyoon.net




Sampaikan ke teman,ortu,saudara
Biar jadi amal jariyah