I. Ditinjau dari sejarah
Ditinjau dari sejarah, setiap amalan bid‘ah didalam agama seperti : peringatan maulid Nabi, isro wal mi’roj, nuzulul Qur-an, tahun baru hijriyah, selamatan kematian, tujuh bulanan kehamilan dll, maka amalan amalan tersebut ternyata tidak pernah dilakukan oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat, para tabi‘in termasuk a‘imatul arba’ (para imam yang empat, yaitu : Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam As Syafi‘i dan Imam Hanbali) dan para ‘Ulama ahlussunnah yang datang setelah mereka, yang merupakan mujtahid-mujtahid besar, seperti : Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam An Nasa’i, Imam At Tiirmidzi, Imam Abu Dawud, dll mereka semua tidak pernah mengamalkannya.
II. Ditinjau dari segi akal
Kalau saja kita mau berfikir dengan menggunakan akal kita yang jernih bukan dengan nafsu, maka akan kita ketahui bahwa amalan amalan tersebut diatas merupakan hasil tasyabbuh (penyerupaan/ meniru-niru) kepada orang-orang kafir.
Contoh : Tata cara selamatan kematian tahlilan yang dilakukan bersama-sama selama 3 hari, 7 hari, 40 hari dst dan tata cara tujuh bulanan kehamilan, hal ini tidak pernah diperintahkan dan tidak pernah dipraktekkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan juga parasahabatnya. Tetapi amalan tersebut adalah hasil mencontek dari ummat hindu dan budha.
Perayaan Maulid Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, juga tidak pernah diperintahkan dan tidak pernah dipraktekkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan juga parasahabatnya. Tetapi amalan tersebut adalah hasil mencontek dari nasrani (Kristen), yaitu NATAL-an.
Begitu juga peringatan Isro wal Mi’roj, Nuzulul Qur’an, Tahun baru Hijriyah dll semua itu tidak pernah tidak ada perintahnya, tidak pernah ada contoh dan petunjuknya dari Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabat rodhiyallaahu ‘anhum ajma’in. Mereka yang melakukan amalan-amalan tersebut diatas menyontek kebiasaan orang yahudi yang senang sekali membuat perayaan-perayaan hari-hari yang dianggap besar.
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dengan sabdanya “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum itu.” (HSR Abu Dawud, Ahmad, dan selainnya).
“Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti cara/jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai-sampai bila mereka masuk ke liang dhabb (binatang sejenis biawak yang hidup di padang pasir), niscaya kalian akan mengikuti mereka.” Kami berkata: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang-orang Yahudi dan Nashara?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu 'anhu, lihat Al-Lu’lu Wal Marjan, hadits no. 1708)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Penyebutan lafadz jengkal, hasta, dan liang dhabb, adalah sebagai kinayah tentang kuatnya penyerupaan umat ini terhadap Yahudi dan Nashara. Sedangkan penyerupaan di sini dalam hal kemaksiatan dan pelanggaran-pelanggaran syar’i, bukan dalam hal kekafiran.” (Syarh Shahih Muslim 16/436).
Khudzaiafah bertanya kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam : “Apakah setelah keburukkan itu ada kebaikkan lagi? Beliau menjawab : Ya dan ada padanya dakhan (kabut/kekeruhan)! aku bertanya lagi : Apakah dakhan nya itu? Beliau menjawab : Suatu kaum yang mengikuti contoh selain sunnah ku dan mengambil petunjuk selain petunjuk ku…”.[Riwayat Bukhari & Muslim]
Yang dimaksud dengan dakhan adalah kekeruhan/kabut. Makna hadits tersebut adalah bahwa didalam agama Islam ini telah terjadi kekeruhan, yaitu terkontaminasi oleh ajaran-ajaran yang diambil bukan dari contoh dan petunujuk Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya mengambil contoh dan petunjuk dari orang-orang kafir.
Renungkan dan fikirkanlah wahai ummat Islam, apakah kalian ingin menodai syari‘at Islam dengan amalan-amalan hasil menyontek dari orang-orang kafir? Padahal syai‘at Islam ini telah dinyatakan “sempurna” oleh Allah subhaanahu wata‘ala, sebagaimana firmannya : “…Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Maaidah 5 : 3)
Demikianlah kabar dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang benar-benar telah menjadi fakta dan realita saat ini, suatu kabar yang pada hakikatnya merupakan peringatan agar umatnya tidak tasyabbuh kepada orang-orang kafir.
III. Ditinjau dari Syari‘at .
Ditinjau dari segi syai‘at, setiap amalan bid‘ah didalam agama seperti tersebut diatas, maka hal itu sangatlah terlarang, berdasarkan firman Allah subhaanahu wata‘ala : “Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Al A’roof 7 : 33)
Dan sabda Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam “Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah ucapan Allah, dan sebaik-baik ajaran adalah ajaran Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam. Sejelek-jelek perkara adalah apa yang diada-adakan dalam dien karena setiap yang diada-adakan dalam dien adalah bid‘ah, dan setiap bid‘ah adalah kesesatan, dan setiap yang sesat di neraka.” (Diriwayatkan oleh Muslim, An-Nasa‘i dan Ahmad)
Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam juga bersabda : “Ikutilah! Dan jangan berbuat bid‘ah. Sungguh kalian telah dicukupkan. Dan sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.” (Shahih, HR. Ad-Darimi 1/69).
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kamu adalah seorang budak Habasiyyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah. Dan setiap bid‘ah adalah sesat.” [HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi]
Rosulullahu shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda “…dan setiap bid‘ah adalah sesat, dan setiap yang sesat di dalam neraka” {HR. An-Nasa‘i)
Beliau juga bersabda “Barangsiapa yang berbuat bid‘ah, atau melindungi ke bid‘ahan, maka dia akan mendapat laknat dari Allah, para malaikat dan seluruh manusia” [Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim].
‘Abdullah bin ‘Umar cmengatakan: “Semua bid’ah itu adalah sesat meskipun orang menganggapnya baik.” (Al-Ibanah 1/339, Al-Lalikai 1/92)
Berdasarkan dalil-dalail tersebut diatas, maka para ‘Ulama ahlussunnah telah mengharamkan setiap perbuatan bid‘ah didalam agama, karena perbuatan tersebut adalah sejelek-jelek amalan bahkan orang yang melakukannya terancan masuk kedalam jurang neraka.
Sedangkan adanya sebagian ‘Ulama yang menganggap adanya bid‘ah hasanah, maka hal ini mengandung dua catatan :
Pertama : Anggapan itu hanya berdasarkan sangkaan semata, karena dalil-dalil diatas baik dari segi sejarah, akal dan syari‘at, telah menyatakan secara jelas dan tegas akan kesesatannya perbuatan bid‘ah.
Kedua : Ada ‘Ulama yang benar-benar sebagai pewaris Nabi, tetapi ‘Ulama ini tidaklah maksum Itidak terlepas dari kesalahan). Ada kalanya ijtihad mereka benar dan ada kalanya ijtihad mereka salah, Hadis riwayat Amru bin Ash rodhiyallahu ‘anh ia berkata:Bahwa ia mendengar Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang hakim memutuskan perkara dengan berijtihad, kemudian ia benar, maka ia mendapatkan dua pahala. Dan apabila ia memutuskan perkara dengan berijtihad, lalu salah, maka ia memperoleh satu pahala” (Shohih Muslim)
Karena itu para ‘Ulama tidak termasuk kedalam orang-orang yang telah Allah jamin masuk surga. Ijtihad seorang mujtahid apabila benar artinya sejalan dengan AlQur-an dan AsSunnah yang shohih maka kita ikuti hasil ijtihadnya, tetapi apabila ijtihadnya tidak sejalan dengan AlQur-an dan AsSunnah yang shohih yang kita dapatkan dari ‘ulama lainnya, maka hasil ijtihadnya tidak boleh kita ikuti.
Apabila seorang ‘Ulama berijtihad dan ijtihadnya salah tetapi kesalahannya itu tidak dia diketahui hingga dia wafat, maka dia tidak berdosa karenanya. Akan tetapi jika kesalahan ijtihadnya itu dia diketahui sebelum dia wafat karena dia telah mendapatkan dalil/pendapat yang lebih shohih dari dalil/pendapat yang pertama dia miliki, maka dia wajib mencabut hasil ijtihadnya dan mengumumkan hasil ijtihadnya telah ia cabut kemudian segera bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta‘ala agar kesalahannya itu tidak diamalkan oleh ummat dan berkelanjutan.
Ada juga ‘Ulama su’ (jahat). ‘Ulama ini cenderung mengikuti hawa nafsu dari pada kebenaran. Nafsu kedudukan, jabatam, harta, populeritas, fanatisme kelompok dll
‘Ulama seperti ini telah diberitakan oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana didalam hadits yang sering saya sampaikan, yaitu beliau bersanda “Para dai yang berada dipintu-pintu jahannam, barang siapa yang menerima ajakan mereka, maka mereka akan menjerumuskan dia kedalamnya” (HR. Bukhory dan Muslim)
Para ‘Ulama yang menganggap adanya bid‘ah hasanah hanya berdasarkan ijtihadnya sendiri dengan sangkaan bahwa ijtihadnya itu benar.
Sedangkan para ‘Ulama yang mengharamkan setiap perbuatan bid‘ah didalam agama, mereka mengikuti sunnah Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dengan berpegang kepada dalil-dalil yang telah jelas keshohihannya
Dengan demikian meninggalkan dan menjauhi amalan-amalan bid‘ah didalam agama, akan lebih menjaga diri kita dari kesesatan dan api neraka. Sedangkan mengamalkan amalan-amalan bid‘ah didalam agama, akan lebih mendekatkan dirinya kepada kesesatan dan api neraka
Karena itu saya berpesan kepada ummat Islam yang masih suka melakukan amalan-amalan yang tidak ada tuntunannya dari Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam (bid‘ah), sayangilah diri-diri kalian, karena amalan apapun yang kalian lakukan maka balasannya akan kembali kepada diri kalian sendiri kelak ketika kalian akan mempertanggung jawabkan amal-amal kalian.
Katakanlah yang haq adalah haq dan yang bathil adalah bathil. Berjanjilah untuk menyayangi diri sendiri. Berlaku jujur dan adillah kepada diri sendiri, sehingga kita tidak akan menzholimi diri kita sendiri.
Wallahu a’lam.
Indahnya sunnah
New artikel:
1. Menjawab salam ketika sholat
2. Bahaya Minum Obat dengan susu
3. Dasyatnya Ujian Wanita dan dunia
4. Taubat-nashuha
5. 10 orang sahabat Rasul yang dijamin masuk surga (Asratul Kiraam).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar